Wednesday, December 02, 2009

Pulau Sempu (2) review...

19 Comments

15 November 2009

Pagi ini hari Minggu, Pukul 08.45 WIB kami berangkat dari Kota Malang. Dan kami berharap sebelum pukul 12.00 WIB agar bisa menyeberang ke Pulau Sempu yang termasuk pulau untuk Cagar Alam. Namun kenyataannya kita berhasil mencapai tempat wisata Sendang Biru kira-kira Pukul 13.00 WIB ini dikarenakan jalan di daerah Dampit ada penutupan jalan sehingga jalan di alihkan dan kita tidak hafal jalan disana, tersesatlah kita sejauh 40 Km ke arah Lumajang.

Liburan ke P. Sempu sejak 2 tahun terakhir ini (yang saya dengar) lebih mudah, tinggal beli tiket, bayar Perahu, dan jika kurang paham navigasi jalan setapak di Sempu kita dapat booking nelayan untuk mengantar kita ke tempat-tempat menarik yang ada. Untuk itu saya ingin membuktikannya. Berbeda dengan beberapa tahun lalu tepatnya Juli 2004 saya pernah bermalam 2 malam di P. Sempu. Saat itu tujuan kita memang untuk explore P Sempu, perijinan yang kami urus sangat berbelit namun sesuai dengan yang kami harapkan, kami mengunjungi hampir semua tempat menarik di pulau itu.

Harga tiket untuk masuk ke tempat wisata P Sempu adalah Pengunjung Rp. 1.000/org, Camping Rp. 4.000, Roda 2 Rp. 1.000, Roda 4 Rp. 1.000, dan Roda 6 Rp. 2.000. Tapi ini adalah tiket masuk di sisi Pulau Jawa karena disini juga pantai ya semacam Pantai Ria Kenjeran. Namun disini masih jauh lebih bersih. Untuk biaya kapal ada 2 paket, 1 biaya hanya untuk menyeberang ke P. Sempu Rp. 100.000 dan untuk mengelilingi pulau Rp 300.000 (masih bisa di nego menjadi Rp. 250.000). Jika ingin menghemat biaya kapal kita dapat mencari keluarga-keluarga atau rekan-rekan yang bertujuan sama dengan kita agar biaya lebih murah alias urunan.

Dari informasi yang kami dapat wisatawan domestik banyak meluangkan waktu bermain ke tempat wisata ini pada hari Jumat sampai Minggu, untuk wisatawan mancanegara biasanya pada hari Selasa. Di P Sempu ini kita juga dapat melakukan Prewedding, salah satu tema-nya calon pasangan mempelai di naikkan perahu kecil yang kemudian di tarik oleh perahu besar.

Perahu Untuk Prewed

Watu Bagong

20 menit pertama perjalanan mengelilingi pulau ombak serasa tenang, namun setelah itu ombak yang lumanyan besar terus mengombang ambingkan perahu kami, mungkin juga karena ukuran perahu yang cukup kecil sehingga mayoritas dari kita merasakan mabuk laut. Dari percakapan kami dengan Bapak Nelayan ombak malah belum apa-apa, karena musim ombak besar jatuh pada kisaran bulan Desember sampai Februari dan para nelayan pun tidak berani untuk melaut. Nelayan sendang biru umumnya menjala ikan pada waktu sore hingga dini hari ini didasarkan pada keluar tidak ikan (ikan akan berwarna menyala atau tampak jika keadaan gelap)

Perahu yang disewa Para Pemancing

Selama perjalanan kami bertemu perahu-perahu yang di sewa untuk memancing. Yang sangat saya sayangkan kami tidak sempat mengambil foto lumba-lumba yang sedang bermain di Laut Selatan. Kurang lebih 1 Jam perjalanan, kami di hantarkan di sebuah pantai Waru-waru disalah satu sisi P Sempu yang menghadap langsung ke P Jawa. Disini banyak keluarga-keluarga menghabiskan waktu bermain di pantai ini.

Pantai Waru-waru

Sisi Luar Segara Anak

Wednesday, October 21, 2009

Nongsa Beach, Batam

0 Comments

Di hari Minggu yang cerah dan sedikit berawan kami memutuskan untuk menikmati pemandangan alam di Batam, dan hal favorit plus membanggakan yang ada di benak smua anak Indonesia adalah "Pantai!!!!" dan tujuan kami adalah Pantai Nongsa, di sisi timur Batam.
Area pantai lain yang ingin kami kunjungi adalah di Sekupang (lihat peta) yang berada di sisi barat Batam. Namun apa daya, saya hanya ada 1 hari Minggu untuk pelesir :)

Perjalanan diawali dengan Lontong Sayur (ala jakarta) di kaki lima sebelah mess. Nyam. Dan tak lama kami sudah menemukan angkot (carry) putih yang bertuliskan "Jodoh- Nongsa". Harap diingat untuk selalu menanyakan detail rute karena ada kalanya sopir bypass (melewati) rute tertentu sesuai pertimbangannya saat itu. Jadi setelah teman saya menanyakan "Masuk pantai Nongsa?" dan sopir mengiyakan baru deh "Tariiiik bang!" Biaya carry 10 ribu (kadang bisa 15 ribu).

Dan sampailah kami di pantai Nongsa setelah perjalanan 1 jam (dengan berhenti dan segala macam tipikal angkot). Cukup menggembirakan karena selain agak mendung area pantai lumayan sepi! Seperti area pribadi sendiri! hahaha....


Area pantai sendiri diapit 2 resort besar. Yang kata teman kalau mau menikmati pantai resort bisa membayar dengan 60.000 IDR. Hanya saja saya berpikir mengenai transport yang membawa kami ke resort2 itu. Beberapa tempat menyediakan jasa shuttle bus, tapi kami belum rela membuang waktu karena "surga" telah di depan mata.


Kami menyisir pantai sambil mengumpulkan "sampah laut" berupa cangkang kerang, atau seharusnya kami menyebutnya "harta karun lautan", halah. Selalu ada yg menarik tentang segala sesuatu yang alami. Kami berteduh di salah satu tempat makan, sambil menikmati kelapa muda. Dan akhirnya ketika melihat sebuah boat mengangkut 3 penumpang ke pulau Putri, kami ikutan deh! Untuk boat sebenernya kami bisa mendapatkan 10.000 IDR utk perjalanan pulang pergi. Tapi yah....hari minggu gitu loooh. Dan tak banyak penumpang yang diangkut.

menuju Pulau Putri dengan boat

Sesampainya di pulau Putri ada iuran 1000 IDR yg perlu dibayar. Di sisi pantai tadipun juga serupa. Sayangnya pulau Putri bibir pantainya disisakan sekitar 8-10 meter. Sisanya di-paving. Padahal terakhir teman saya ke sana, bisa mengitar sluruh pulau dengan merasakan pasir pantai >.<
area yang belum dipaving


ekspedisi pulau-pulau terluar Indonesia


area yang telah dipaving

Kami sangat bersyukur untuk hari itu. "Ini baru Batam loh" celetuk teman saya. Benar juga. Semoga sekelumit pantai di Batam yang belum dikuasai resort-resort dapat tetap memberikan kebahagiaan seperti yang kami rasakan bagi siapapun (mo pengunjung, mo pengelana, mo turis nyasar).

Tips: tabir surya, sun block, jangan lupaa....Kami terlalu meremehkan hal-hal kecil saking tak sabarnya menuju ke pantai. Pulang-pulang dapat oleh-oleh kebakar sinar matahari yang perihnya belum hilang dalam 3 hari, bagoeess...... T_T
Dan minuman.
Sebenarnya di sisi lain dari pantai Nongsa terdapat banyak restoran seafood. Namun kami harus mengejar acara yang lain dan berpikir menikmati seafood di foodcourt aja deh (nyesel juga...hiks)

Foto-foto pantai Nongsa yang laen dapat di lihat di sini.

Batam Oktober 2009

0 Comments

Tidak banyak yang diketahui dari Batam, kecuali bahwa 10-15 tahun lalu Batam adalah satu pulau kecil bagian dari Kepulauan Riau yang berfungsi sebagai kawasan industri. Bahkan sampai sekarang, sekilas pandang tidak banyak yang menarik mata.


Namun istilah jangan menilai buku dari sampulnya memang benar. Kesempatan kali ini penulis menikmati Batam bersama seorang teman yang telah tinggal dan bekerja di Batam selama 5 tahun untuk membantu menjelajahi Batam.

Batam adalah suatu tempat multikultur. Kita dapat menjumpai aneka etnik dari Sabang sampai Merauke. Hampir tidak dirasakan superioritas etnik tertentu karena notabene semua adalah pendatang. Tanpa kaum kapitalis yang mendirikan pabrik-pabrik di Batam tak ada penduduk lokal yang memulai "peradaban".
Makanan dari Jawa sedikit banyak dapat ditemui pula. Tarif makan di warung pinggir jalan untuk Gado-gado dan Lontong Sayur mencapai Rp. 6000,-. Nasi Padang tanpa daging (telur) mencapai Rp. 10.000,- . Lebih mahal sedikit dibanding Jakarta :)

Penjual gado-gado, lontong sayur, soto ayam

Penulis tinggal di daerah Jodoh, dengan penyeberangan ferry ke Singapura terdekat adalah Harbor Bay dan pusat keramaian terdekat adalah Nagoya. Sekilas peta dapat diintip di sini.

Harour Bay, one of 3 ferries to Singapore

Tiga mall besar yang menjadi landmark kota, yang masih bertahan, Megamall di Batam Center, Nagoya Hill di Nagoya, Batam Square Center (terkenal dengan gedung bioskop baru bagi penggemar film-film Hollywood dengan HTM Rp. 10.000,-!!! kecuali Jumat-Minggu).


Nagoya Hill, back entrance


Jodoh Boulevard

Transportasi umum jauh lebih memadai dibanding Bali yang turismenya jauh lebih berkembang. Pangkalan ojek dapat dijumpai di mana-mana, dan menjadi alternatif yang paling disukai untuk efisiensi dan efektivitas. Beberapa line angkot (penduduk lokal menyebutnya "carry") juga terlihat berseliweran. Tak kalah dengan kendaraan taksi. Untuk taksi, pakai sistem borongan, alias tidak memakai argo. Bahkan tak jarang dijumpai taksi-taksi gelap tanpa plang "taksi" di atas kendaraan. Di jalanan carry dan taksi biang keributan, bukan karena mereka tidak sabaran untuk melaju, tapi sibuk menggaet penumpang dengan klakson mereka.

Tidak banyak daerah clubbing yang terendus (karena penulis tidak hobi). Hanya sempat melewati kampung bule (istilah mereka) di belakang hotel yang penulis lupa namanya... masih di kawasan Jodoh. Nampak luar tak terlihat hingar bingar, tapi teman penulis pernah melewati salah satu klub yang terbuka pintunya, yang ternyata interior dan musiknya mantab dan berkelas.

Dari segi keamanan, dapat dirasakan lebih aman dari kota-kota besar di jawa (timur)., namun kewaspadaan tetap harus dijaga (penulis terlalu terbiasa dengan hidup di Singapure, jd harap maklum).Selain dari cerita teman, saya melihat sendiri di kaki lima yang menaruh kotak uang dengan enteng di atas meja tanpa perhatian ekstra (kayak uang 100rb dan 50rb ngga ada harganya).

Ikon pariwisata lainnya adalah Jembatan Barelang. Hanya saja setahun lalu ketika penulis diajak ke sana tidak sempat mengambil foto.

Jembatan Barelang adalah nama jembatan “megah” yang menghubungkan tiga pulau yaitu Batam-Rempang-Galang. Masyarakat setempat menyebutnya “Jembatan Barelang”, namun ada juga yang menyebutny a “Jembatan Habibie”, karena beliau yang memprakarsai pembangunan jembatan itu untuk menfasilitasi ketiga pulau tersebut yang dirancang untuk dikembangkan menjadi wilayah industri di Kepulauan Riau. Ketiga pulau itu sekarang termasuk Provinsi Kepulauan Riau, Kepri, sebuah provinsi yang baru saja diresmikan keberadaannya oleh menteri dalam negeri.

sumber: wikipedia.org

Sekian pengantar tentang Batam. ;)

Saturday, August 15, 2009

Old BATAVIA

8 Comments

Salam wisata,

Berkenaan dengan semangat kemerdekaan aku coba ulas tentang old batavia ya :p

Lama banget kaki ini tak melangkah. Kangen .... tapi seneng jg ngliat liputan temen2 disini. Nice.
Kali ini aku ada berkesempatan ke Jakarta walau cuma 2 hari. Inipun tidak bisa di bilang berlibur, namun aku menyempatkan mencuri waktu melihat TUGU MONAS. Iya, hahaha baru kali ini diriku melihat tugu monas.
Jadi begini ceritanya, aku ingin membagi info hotel yang murah meriah yang letaknya cukup strategis dan yang penting bersih. Namanya Hotel Kana. Letaknya di Jalan Antara 39. Pasar Baru. Tidak mewah memang malah kesan hangat dan kekeluargaan lebih terpancar dari para staf hotel ini. Harga kamar tergantung di tingkat brapa kamar yang kita pilih karena tidak ada lift untuk tamu. (bagi yang merasa muda, nga susah2 amat kok olahraga naik tangga hihihi). Lantai 1-2 mempunyai harga sekitar 250rb dan 275rb kalau tidak salah. Lantai 3-5 berharga 200ribu rupiah. Harga ini sudah termasuk breakfast berupa roti tawar, kopi / teh yang bisa kita ambil sebanyak kita mau. Self service ye.. :p

Jika kita berjalan ke arah kiri, kita akan segera menemui Gedung Antara konon di gedung yang di bangun sejak sekitar tahun 1920 inilah naskah proklamasi di kumandangkan ke seluruh dunia. Gedung ini sekarang berubah fungsi menjadi tempat galeri foto para wartawan Antara. Semacam gedung untuk pameran fotografi dengan tema yang berganti2 setiap waktu tertentu.
Tak jauh, kita langsung akan bertemu dengan gerbang utama PASAR BARU. Kawasan ini di bangun sejak tahun 1820, dan merupakan kawasan elit yg di bangun oleh pemerintah Belanda dulu. Semacam kawasan Menteng kalau jaman sekarang. Tidak ada kendaraan boleh melewati kawasan ini. Kita bisa berjalan kaki menyusuri sekian banyak toko yang berjajar di kiri kanan. Ada toko sepatu, kain dan tailor, baju, minuman, makanan, alat2 keperluan fotografi, alat olahraga, bahkan ada 1 toko serba ada lengkap dari A-Z. Ada retail seperti Rimo. Ada fastfood seperti A&W. Pokoknya semua ada deh disini. Termasuk beberapa orang yang memperdagangkan uang asing dan kuno di kaki lima.Bagi penggemar filateli, persis di depan hotel ada Gedung Filateli Indonesia. Sayang saya belum sempat mampir melihat2. Di seberang juga ada banyak pelukis sketsa, karikatur dan lukisan cat berjajar.

Dari kejauhan di arah kanan hotel, kita bisa melihat puncak Monas. Dengan tekad bulat melawan kantuk aku coba berjalan pagi2 menuju ke arah itu. Dan sekitar 15 menit jalan santai, aku bisa berfoto dengan monumen nasional yang menjadi monumen peringatan semangat perjuangan revolusi kemerdekaan 1945. (Info lengkap http://id.wikipedia.org/wiki/Monumen_Nasional ).

Minggu pagi itu banyak sekali orang disana, sebagian besar adalah rombongan yang berwisata, sebagian lain adalah warga Jakarta yang berolahraga, bersantai piknik dengan kluarga atau bersepeda santai. Di depan gerbang kita jumpai banyak sekali bajai dan andong yang siap mengantar kemana kita mau pergi. Di tengah2 lapangan yang sangat luas dan hijau ini ada sekumpulan pedagang yang tergabung dalam 1 asosiasi yang menjual souvenir dgn berbagai macam benda bergambar Tugu Monas.

Malam harinya seorang teman yang tinggal di Jakarta mengajakku mencicip makanan di kawasan Pangeran Jayakarta (Daerah mangga dua, JAKpus). Kami makan di Bakmi Kepiting A HOK yang konon terkenal di kalangan penggemar kuliner. Lalu di tempat ini juga ada makanan yang menarik namanya Sekoteng. Bagi orang Surabaya mungkin begitu mendengar kata Sekoteng = minuman jahe dengan labu dan jelly kering. Namun ada yang beda dengan sekoteng ala jakarta ini. Coba di simak gambar dibawah. Ini semacam makanan sehat ala keturunan Chinese Indonesia. :p Tanpa jahe sama sekali ... hehe..Sekian dulu liputan petawisata.net dari ibu kota Jakarta. MERDEKA!!!

Wednesday, August 12, 2009

Karimunjawa

19 Comments

"mau kemana nih, Bali??"
'kalau Karimunjawa piye? kamu kan pengen kesana'
"hahh.. backpackeran??"
'iya...'
"bukannya mustinya kita santai2 pas hanimun?"
'kan bisa santai juga nanti disana...'

Akhirnya saya dan istri yang baru berumur seminggu memutuskan untuk ke Karimunjawa, sebuah kepulauan yang sejak tiga tahun lalu pengen aku kunjungi tapi selalu gagal. Saya tertarik banget sama wisma apugnya Pak Joko yang terkenal ituh, tapi semenjak meninggalnya Pak Joko websitenya jadi engga terupdate. Sempat saya hubungi via email juga tidak ada balasan sampai akhinya saya menemukan Pak Ipong, salah satu penduduk Karimun yang kebetulan mempunyai hotel sekaligus birowisata disana dan mau membantu kami untuk pengurusannya.

Setelah email-emailan panjang lebar akhirnya kami mempunyai kesepakatan memakai jasa Pak Ipong untuk pengurusan tiket dan tetek bengeknya. Rencana awal mau di Wisma Apung dua malem tapi engga enak.. masa udah bantuin engga nginep di hotelnya hihi.. jadi akhirnya kami memutuskan untuk tinggal di Wisma Apung semalem dan di hotel Duta Karimun semalem.

8 agustus...
Kami berangkat dari Surabaya tgl 7 Agustus, mampir ke rumah sodara dulu dan bermalem disana. Kemudian keesokan harinya sesuai jadwal kami menuju ke Pelabuhan Tanjung Mas jam delapan pagi. Disana ternyata ada Pak Ipongnya sendiri, deg-degan juga karena tiketnya sempet ilang.. ehh.. tau2nya keselip.. duh Pak, kalo ga jadi brangkat piye nih?? :p.
Pukul 9 wib tepat kapal Kartini berangkat. Kami dapet tiket bisnis, ruangannya nyaman, ber-AC. Waktu diatas kapal kami sempet ditukerin ama dua orang anak tiket kelas eksekutif, wah mayan nih dapet rejeki!!. Tapi setelah dicoba ternyata kelas eksekutif ada di lantai dua, kalo kapal gerak makin terasa goyangannya. Alamakkk.. kok gini??? akhirnya minta tukeran lagi dah, untuk si mbak engga sewot :p.


(kiri) kapal kartini, (kanan) ruang bisnis

Pukul 13.00 kapal bersandar di pelabuhan Karimun, kami sudah dijemput sama Pak Srianto, driver sekaligus tour guidenya.


(kiri) gate selamat datang (kanan) peta tempat wisata di karimun

Kami singgah sebentar di Dewa Daru Resort untuk lunch dengan menu sayur bening, kurupuk teri, ikan goreng, buah pisang dan es kelapamuda. Makanannya sederhana tapi rasanya yummy :). Setelah makan kami di datangin ama Pak Ipong...


salah satu tempat penginapan di dewadaru resort

"Mas, ada rombongan yang engga mau dipisah nih, mas dipindah aja ya?, mau di Dewadaru sini atau Karimun Inn?"
'aduhh.. saya buta nih soal Karimun, saya ngikut deh apa yg baik'
"okeh, di Karimun Inn aja ya?"

Setelah lunch, Pak Sri mengantarkan kami ke Karimun Inn untuk beristirahat sebentar plus mandi-mandi. "Nanti jam tiga siang tak jemput loh ya, siap-siap" pesan Pak Sri yang wajahnya selalu sumringah :p.


(kiri) kamar di karimun inn, (kanan) resto di karimun inn

"Wah, ternyata engga dipinggir pantai ya?" huks.. tau gitu di Dewadaru, sempet nyesel juga awalnya milih di tempat ini.
Di tempat ini Pak Ipong nyewain family room, satu rumah gitu dengan dua kamar plus satu ruang tamu buat nonton TV. Weewww.. ternyata tetangga kita satu rumah menyenangkan banget, dapet kenalan baru yang ramah & baik. Wah, ga jadi kecewa deh udah dipilihin di tempat ini, jadinya liburan double date hahaha...

Tepat pukul tiga sore Pak Sri jemput, kita berempat berlayar gabung dengan rombongan yang ternyata kakak kelas saya pas kuliah tujuh tahun lalu, halah mbulet wae ternyata dunia ini :p. Dasar apes, schedulenya engga saya print dan masih ngendon di email, padahal waktu itu acara snorklingan, uhuks.. ga bawa celana renang. Jadinya saya dan istri cuma bengong2 aja liat orang2 pada jebar jebur.

Setelah acara Snorkling di Pulau Cemara Besar kami lanjut berlayar ke Tanjung Gelam untuk melihat sunset. Sepertinya tempat ini masih termasuk Pulau Karimunjawan, tapi sisi yang lain. Sore ini langit kurang bagus, sunset terbentuk engga sempurna, wah.. apes lagi nih... tapi kami sempet bikin foto narsis buat pembaca petawisata, foto yang judulnya salam cinta dari karimunjawa... :p

salam cinta dari sunset di karimunjawa

Dari Tanjung Gelam kami pulang ke motel untuk mandi, kemudian dilanjutkan makan malam di Dewadaru Resort. Menu kali ini ikan goreng, ikan asep, oseng-oseng kerang, sayur asem (kalo gak salah :p), krupuk, semangka, pisang, teh anget.. nyamm... enak, saya suka oseng kerangnya.

9 agustus...

Pagi-pagi kami udah dijemput sama Pak Sri untuk berlayar ke Pulau Menjangan Kecil dan Menjangan Besar untuk melihat taman laut. Hari ini juga kami berencana pindah penginapan ke Wisma Apung Pak Joko.
Kami memakai boat milik perhubungan yang di dalemnya ada kaca yang menghadap ke bawah, jadi dari atas kapal bisa melihat terumbu, ikan dll, bagus euy.


(kiri) pemandangan bawah laut dari atas kapal, (kanan) snorkling bareng ikan2

"Pak, mau pipis dimana nih?" celetuk salah satu rombongan ke pengemudi...
"waduh, ya nyebur aja ke laut buk sekalian snorkling" sahut Bapak pengemudi

Hiyaaahhh, akhirnya semua pada rame2 nyebur deh sekalian snorklingan huahua... semua pada cengar-cengir tuh waktu nyebur, saya tentu saja ikutan nyumbang pipis di laut :p. Kali ini persiapan sudah ok, jadi bisa snorklingan berdua, asiikkk. Makasih banget Pak Srianto buat panduan ke taman lautnya, tepatnya narik kami berdua :p... gpp ya Pak, kan bapak yang pake sepatu katak haha. Pak Sri ini ternyata anggota scuba diver, pantes di laut enak banget keluar masuk air, tau2 nyelem... eh muncul lagi... nyelem lagi.. sempet diambilin kerang warna pingky dari dasar laut buat kenang2an, tapi kok ya malah ketinggalan di perahu :(( huaakk..

Setelah di Pulau Menjangan kita melanjutkan perjalanan ke Kura-Kura Resort, sebuah pulau yang konon dibeli dan dikelola oleh orang asing. Namun sayang, saat itu rombongan engga boleh bersandar disana, mungkin takut privasi tamu2nya terganggu. Yah, kita maklum sih...

Acara terakhir kita ke Wisma Apung sekalian pindah rumah. Wisma Apung ternyata ada banyak disini bukan Pak Joko doang (baru tahu nih). Saat itu kami di Wisma Apung lain karena kabarnya di Pak Joko Sudah full booked :(. Wisma Apung yang ini kondisi kamar mandinya mengenaskan, engga ada air.. mampus dah.

wisma apung

"Gimana? mau pindah ato balik ke karimun inn?" tanyaku ke istri yg tampangnya udah keliatan ngeri begitu liat kamar mandinya :p
"tetep di karimun inn aja ya?"

Demi kelancaran buang air besar dan kecil akhirnya kami membatalkan untuk pindah ke Wisma Apung dan balik kandang. Wisma Apung ini sekaligus tempat untuk penangkaran Hiu dan Penyu entah dengan tujuan pelestarian atau sengaja sebagai obyek wisata kami kurang tahu.

(kiri) kolam hiu, (kanan) penangkaran penyu

Kalau mau berenang dengan Hiu diperbolehkan loh, kabarnya sih Hiu ini udah jinak. Tapi yang namanya Hiu ya tetep aja Hiu, jadi lebih amannya kami memilih untuk mengamati dari atas saja :p.

Setelah dari penangkaran Hiu kami pulang untuk mandi2 kemudian dijemput lagi untuk makan Malam di The Nirvana Lodge. Wuaahh tempat ini keren banget, semua bangunan dari kayu. dam ruangan2nya tertata apik. Arsitekturnya bagus, kami ber empat makan malam dilantai dua dengan pemandangan depan menghadap laut dan atas bintang2, romantiss :D. Menu malem terakhir ini rada dimanjakan, kami dapet sate ayam, cumi tepung, ikan bakar, sayur model cap cay gitu dan semangka, semua dalam porsi raksasa. Kami berempat sampe kewalahan, yg habis cuma ikan bakarnya, yg lain nyerah...

salah satu sisi nirvana lodge

Setelah makan malam kami mampir di toko souvenir, yang dijual kebanyakan khas daerah situ seperti perhiasan dari kerang berupa gelang, kalung dll. Kalau makanan yang dijual rumput laut, teri, krupuk. Saya pribadi tertarik dengan tongkat yg diukir bentuk naga terbuat dari kayu dewadaru (kayu khas karimun), sayang duit di dompet dah tipis huhuhu...

10 agusus...

Hari ini rencana pulang... jadwal kapal cepat Kartini engga ada pada hari ini, jadi kami pulang dengan Kapal Muria, lebih gedhe emang tapi ternyata engga menjamin lebih tenang. Atau memang bulan2 Juli-Agustus ini ombak lagi gedhe-gedhenya ya? Goncangannya terasa banget.. buset dah..

(kiri) kapal Muria, (kanan) ruang bisnis

Perjalanan dengan kapal Muria ini lebih lama, waktu itu kami menempuh 7 jam perjalanan laut. Kami menempati kelas Bisnis, bangkunya mayan lebar dan empuk, ber-AC juga.

pemandangan dari atas dek Kapal Muria

Sekian share cerita dari karimunjawa... salam hangat petawisata...

tips :
- makin atas kapal, goyangan makin krasa, jadi pilih kelas bisnis aja yang berada di dek bawah. antimo wajib dibawa.. abis nelen langsung bobo ato paling ga pura2 merem :p
- di karimun terkenal dengan kayu yang namanya dewadaru, banyak kerajinan dijual dalam bentuk tongkat dll di toko suvenir, wajib tuh buat kenangan tapi mahal... siap2 aja 300rb.
- karena ini kepulauan jadi kalo buta medan disarankan pake jasa guide aja kecuali bawa duit banyak buat sewa boat pribadi :D
- kalau mau acara padet benernya 2 hari semalem semua kepulauan udah bisa diputerin
- di pintu masuk pelabuhan ada peta lokasi wisata, baca baik2 kalau mau tau tujuan yg dipengen
- kapal Muria kamar kelasi bisa disewa buat yg suka mabok bisa tidur disana. 1 kamar isi 4 tempat tidur.

note :
- Makasih banyak buat Biro Wisata Pak Ipong, pelayanan yang membuat kami selalu kenyang dan hari-hari yang penuh dengan jalan-jalan. Birowista ini bisa diakses disini dan disini. Moga sukses ya Pak..
- Thanks buat tetangga kamar sebelah Adi dan Rizki, nice to meet you all...

Friday, July 24, 2009

Kebun Teh Wonosari & Pantai Balekambang

6 Comments

Kamis kemaren ambil cuti, saya dengan rombongan berencana kabur sejenak dari kota Surabaya untuk melepas penat. Kami berlima menuju ke Kebun Raya Purwodadi, tapi karena teman saya sudah pernah mengulas Purwodadi disini jadi saya ulas yang lainnya saja, sebagai oleh-oleh saya aplot foto sekilas di Purwodadi buat kenangan :).

purwodadi

Setelah dari Purwodadi kami meluncur ke Kebun Teh di PT. Perkebunan Nusantara XII, Wisata Agro Wonosari. Lokasi agrowisata ini terletak di sebelah utara kota Malang, kira-kira sekitar 30km perjalanan. Berada di kecamatan Lawang di kaki gunung Arjuno. Kalau mau kesana gampang sih, tinggal tengok aja di kiri jalan (kalau dari arah Sby), ada Papan Gedhe banget yang nunjukin tempat ini.

Tempatnya luas buanget, kalau hari libur (katanya) ada kereta api mini gitu buat nganter pengunjung untuk keliling lokasi perkebunannya. Untuk tiket masuknya kami dikenakan biaya Rp. 45.000,- untuk lima orang, mobilnya gratis ga bayar :)

(1) kebun teh, (2) wisma rolas

Buat yang bawa kendaraan pribadi lebih enak, bisa muter2 sampe puas keliling kebun. Untuk yang mau bermalam juga bisa karena di tempat ini ada juga penginapan dan villa. Suasananya sejuk dingin dengan pemandangan pegunungan, emang cocok banget dah buat tempat peristirahatan. Selain itu sehari-harinya kita juga bisa melihat kegiatan mbok-mbok yang sedang memetik pucuk daun teh, serasa di desa gitu...

(1) wisma rolas, (2) kebun teh

Tempat pertemuan juga ada disini seperti foto diatas, mungkin yang berniat rapat dengan suasana yang segar biar kepala ngga puyeng tempat ini cocok banget.. (ato malah ketiduran di tengah rapat karena suasananya yg mendukung? :p)

Ditempat ini juga terdapat pengolahan daun teh menjadi teh alias pabriknya sendiri. Sayang karena saat itu kami engga punya waktu yang banyak jadi engga sempet mampir meninjau pabriknya. Kabarnya agar bisa masuk ke pabrik ada syaratnya yakni musti rombongan dan lapor dulu untuk persiapan guidenya disana. uhuks...

(1) bungkus teh kualitas 1, (2) supermarket

Sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat yang lain kami mampir sebentar di supermarket yang letaknya masih didalam kawasan Kebun Teh. Kantin ini menjual hasil Kebun dalam bentuk jadi. Ada teh kualitas satu, kualitas dua, teh hijau, madu dll.. kebanyakan produk2 lokal. Konon teh hasil produksi pabrik ini tidak dipasarkan secara umum, jadi wajib beli kalau kesini. Saya coba sebungkus yang kualitas nomer satu dengan harga sekitar Rp. 5.000,-. Tehnya wangi sedep, saat diseduh.. rasanya juga enak.. teh banget lah pokoknya... :p. Bubuknya rajangan lembut2.. jadi kalo pake saringan musti yang halus biar ampasnya bisa terangkat semua.


(1) Balekambang

Setelah puas, kami meluncur ke Pantai Balekambang. Letaknya ada di pantai pesisir selatan dengan jarak tempuh kira-kira 2 jam dari kota malang. Harga tiket masuk Rp. 25.000,- untuk lima orang. Pantainya bagus bening banget , tapi sayang.. pasir yang lembut ini dipenuhi dengan kerang kecil2 jadi sakit kalo pas dibuat jalan2 ato lari-lari dipasirnya. Di pantai ini juga ada sebuah Pura yang menjorok agak ke tengah laut.


(1) Pura Balekambang, (2) Teluk Balekambang

Pantai ini lumayan besar ombaknya dan ada beberapa bagian yang pantainya terjal ke dalam. Tapi jangan kuatir karena di bagian yang berbahaya sudah diberi tanda berupa bendera warna merah, jadi jangan coba-coba untuk berenang kecuali merelakan diri tenggelam digondol ombak. Kekurangan dari pantai ini adalah minimnya sarana buat pengisi perut :D. Warung-warung dikitttt banget & kalau menjelang petang ngeri, gelap gulita pantainya. Sepi dari penduduk sekitar.

Yah... itu hasil jalan-jalan kemaren, salam hangat dari Petawisata... ;)

Monday, July 13, 2009

Taman Safari Indonesia II

2 Comments

Hari minggu kemarin kami jalan-jalan ke TSI II di Prigen.
Tiket masuk untuk dewasa(6 thn ke atas) Rp 40.000/orang. Anak-anak Rp 35.000. Mobil Rp 10.000.
Dari area parkir awal pengunjung bisa memilih safari walk atau jalur dengan mobil.
Kami memilih yang pakai mobil.


Pertama memasuki wilayah America (kalau tidak salah). Di area ini perjalanan lancar2 saja sampai kami bersua dengan si "Teddy Bear". Beruang grizzly.
Si Teddy 'fall in love' dengan mobil kita. Mungkin karena posisi kendaraan terlalu dekat dengan beruang, atau ada yang buka kaca-jadi menarik perhatiannya.
PDKT dimulai dengan mencium-cium ban mobil sebelah kiri, terus entah apa lagi yang dikerjakan-soalnya dari posisiku kurang jelas. Mobil mau dijalankanpun juga tidak bisa, karena takut kakinya terlindas ban. Ntar bisa tambah marah.
Tiba-tiba...ada suara glodak-glodak?!?! Wah, ngapain aja tuh?
Trus, datanglah mobil pengawas dengan kecepatan cukup tinggi sambil nge-dim.
Teddy-nya langsung kabur. Ternyata, si Teddy tadi sempat mencicipi bemper depan mobil kami :D Sampai lubang-lubang.
Oleh si pengawas, kami diarahkan menepi di area yang aman kemudian mengenai ganti rugi disuruh langsung ke kantor.
Perjalanan sempat dilanjutkan sampai ke hutan burung, tapi si pemilik mobil kemudian memutuskan buat mengurus mobil dan pulang. Untung kami bawa 2 mobil, jadi ngga perlu pulang semua deh.



Sambil menunggu hubby n brother-in law mindahin barang2, aku sempat keliling2 sendiri sama mertua. Ada Tiger Cave. Resto dengan nuansa unik, dimana pengunjung bisa menikmati hidangan di dekat 2 harimau putih yang super big size!! (kayaknya di Singapore ada juga resto semacam ini). Harimaunya keren banget! Bolak balik ngintip di balik jendela besar. Mungkin mereka ngeliat tamu resto itu kyk menunya mereka ya hehehehe...

Ada lagi area orang utan. Ada yang asyik main ayunan. Guling-guling. Berjemur, dll. Lucu sekali. Seperti orang beneran :)

Spot foto bersama macan. Untuk foto bersama binatang (ada macan sama orang utan) pengunjung cukup membayar Rp 10.000 (foto dengan kamera sendiri).
Singa/macan yang cukup aman buat berpose ada Yulia (7bln) & Christina (14bln). Mereka 2 bersaudara. Siang itu kerjanya tidur doank. Singa/macan baru aktif sewaktu malam karena mereka termasuk hewan nocturnal. Baru tumbuh surai sekitar usia 5thn. 1 jantan bisa mempunyai betina sampai 20 ekor. Penglihatannya di waktu malam seperti penglihatan kita di waktu siang-bahkan malah beberapa kali lipat jarak pandangannya.Begitulah penjelasan petugasnya.
Jadi siang itu mereka dibangunin buat sekedar berpose sebentar dgnku. Untuk menarik perhatiannya dikasi mainan. Wah, beratnyaaa.... Bulunya agak kasar. Kalau lebih dewasa tambah kasar lagi. Kukunya sudah dipotong. Telapak tangannya besar sekali.


TSI II ini cocok dikunjungi oleh anak2. Selain untuk bermain juga bisa untuk belajar. Berbagai wahana untuk anak2 bnyk dijumpai di sini. Tiket terusan Rp 35.00 (kecuali sepeda layang). Kalau tidak menggunakan tiket itu harga per wahana rata2 Rp 10.000.

Berbagai show juga disajikan sebagai sarana hiburan & edukasi. Edukasi ini penting, untuk pengunjung dewasa sekalipun. Melalui show2 ini kita diajak untuk lebih mengenal & mencintai lingkungan sekitar. Misalnya dengan membeli kaos hasil lukisan gajah (Rp 80.000 untuk dewasa/Rp 70.000 untuk anak2) atau Rp 10.000 ke kakatua, kita sedikit banyak memberikan donasi untuk kelestarian mereka.

Monday, May 11, 2009

Yogyakarta (3)

2 Comments

Setelah perjalanan saya yang pertama dan kedua ada satu yang tidak berubah dari kota Jogja, yakni lalu lintasnya yang semrawut :p. Lampu merah di terjang, orang belok kanan tapi ambil sisi jalan sebelah kiri udah bukan hal yang aneh. Meskipun hiruk pikuk yg ribet itu bikin puyeng, Jogja tetep sebagai salah satu kota yang ngangenin buat saya. Tahun ini pun akhirnya saya mendatanginya lagi dalam rangka "nyekar" sekaligus liputan disana sini.

Tujuan kali ini ke pemakaman raja-raja Mataram yang letaknya di Kota Gede. Sebelum memasuki kawasan pemakaman, kami melewati jalan yang namanya dalgendu, jalan ini konon dulu ditempati oleh para orang-orang yang tajir. Ada beberapa peninggalan yang kelestariannya masih dijaga sampai sekarang seperti sebuah rumah yang tembok dan lantai dihias dengan duit koin. Sayang kemarin kami engga sempet mampir dan mengabadikan.

Dasar apes, pas kesana kok ya pas jumat legi dan kami datang kepagian, jalan masih bumpet karena di persimpangan jalan menuju pemakaman dipakai buat pasar legi, banyak orang jual-beli burung. Kendaraan udah ga bisa maju, penuh orang lalulalang. Akhirnya kami memutuskan berhenti dan parkir di pinggir jalan depan toko kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Sekarang di jalan dalgendu ini kiri kanan jalan penuh dengan toko yang jual perhiasan dan pernak pernik yang terbuat dari silver (perak)

toko yg jualan hasil pengrajin perak

Anting, kalung, gelang, hiasan dinding, patung2 kecil semua ada disini. Kami sempet mampir sebentar untuk lihat-lihat, wuihhh... harganya ternyata lumayan juga. Tapi ga usah kuatir, harga disini bisa di tawar kok, untuk tips dan triknya saya kurang pinter, keknya itu bagian ibu2 saja :D.

kawasan pemakaman dilihat dari jalan

Di kawasan pemakaman ada tiga (kalo ga salah :p) gerbang. Pertama gerbang utama untuk masuk ke area pemakaman, yang isinya ada pendopo gedhe engga tau untuk apa, Kedua gerbang tempat masuk ke area wisatanya. Ada dua pendopo di kiri kanan jalan dengan simbol bendera kraton Jogja dan Solo, kemudian ada dua bangunan dari kayu di kiri kanan yang digunakan untuk ganti pakaian cowok dan cewek.

1. gerbang masuk area wisata pemakaman, 2. gerbang masuk pemakaman

Kenapa ada ruang ganti pakaian? karena syarat masuk ke pemakaman harus pakai baju tradisional, kalo cewek ya pakai kemben, kalo cowok ya paling jelek pakai sorjan dan jarit, bagi yang engga punya ga usah kuatir, karena disini ada persewaan seharga 10rb per pakaian.

halaman depan

Sebelum masuk ke pemakaman, di sebelah kiri ada gerbang lagi masuk ke area seperti tempat pemandian tapi engga jelas juga, bentuknya seperti kolam renang tapi berundak-undak.

Dahulu memasuki tempat pemakaman selain harus memakai kemben juga diharuskan laku dodok (jalan sambil jongkok) dengan tujuan "penghormatan". Sebagian pengunjung yang tua-tua masih melakukan itu saat memasuki gerbang.

pengunjung yg laku dodok

Di dalam kawasan pemakaman dibagi menjadi dua tempat, yakni indoor dan outdoor halah bahasane... :p. Yang ada di dalem ruangan antara lain seperti makam Pangeran Singasari, Mangkunegara, Kyahi Mangir yang sebagian makamnya ada di dalam ruangan dan sebagian lagi diluar (karena musuh yang akhirnya menjadi menantu), total makam ada 81 buah. Di dalam ruangan dingin banget, mungkin karena semua lantai dan makamnya terbuat dari marmer ya? Makam panjangnya rata-rata 2,5 meter, mungkin emang Raja-raja jaman dulu tinggi gedhe, jadi dibuat panjang atau sengaja dibuat seperti itu untuk menunjukkan kesan "Raja".
Sebagian makam ada yang dibuatkan penutup seperti joglo mini. Ruangan indoor ini semua terbuat dari kayu dan diukir, indah banget kalau dicermati. Sayang kawasan pemakaman ini dilarang mengabadikan melalui kamera, jadi ya terpaksa engga ada hasil yg bisa ditunjukkan.. :(

Dibagian Outdoor ada 546 makam, bentuknya biasa dan tidak istimewa. Yang dimakamkan adalah keturunan dari Raja2 yang ada di area indoor tadi. Kesan mistis masih terasa banget di sini, kadang ada yang datang bawa menyan, ada yang bawa ayam hitam dan disembelih dll, kental banget deh tradisinya.

Bicara soal jogja keknya belum lengkap kalo belum bicara'in tentang gudeg :). Saya punya tempat makan gudeg yang menurut saya rasanya paling sip.

gudeg Yu djum

Nama depotnya Yu Djum, tempatnya ada di jalan Wijilan No. 31 (Selatan Plengkung Wijilan) Yogyakarta, kalau mau telpon bisa hubungi ke 0274. 7873332. Rasanya pas, engga terlalu kering tapi juga engga terlalu basah, manisnya pas, legitnya telur ama daging pas, kreceknya juga sip.. mantab pokoknya. Gudeg ini dijual dalam bentuk nasi kotak atapun terpisah yang biasanya dimasukin kedalam kendil dan dibungkus dengan anyaman klasik.

Salam Wisata dari Jogja ;)...

note : thx to sintul, denis, richo, nowel buat puter2nya, juga buat tante buat nunutan nginep. dan ga lupa supre yg nemenin di perjalanan ;)