Saturday, February 13, 2010

My Last Semeru Hike

18-19 September 2009

Malam itu sekitar jam 20.00 kita bertiga (Redi, Ronald dan Bernardus) berangkat dari Surabaya menuju Tretes (Prigen) kita mempunyai planning melakukan pendakian Arjuno Welirang (setelah planning ke Gunung Rinjani, Lombok gagal karena jalur pendakian di tutup, status siaga). Setelah sekitar pukul 22.00 kita sampai di pos pelaporan alhasil kita tidak di ijinkan mendaki karena adanya kebakaran di Puncak Arjuno yang merembet ke Gunung Welirang. Kami bertiga bingung memutuskan untuk ke Gunung Semeru, Gunung Lawu atau Pulau Sempu, karena persiapan camp kita sudah komplit.

Akhirnya kita memutuskan untuk mendaki Puncak Mahameru lagi, jam 24.00 kita sampai di Kota Malang tujuan kita mencari penitipan mobil di salah satu teman kita di Malang, namun sudah terlalu malam kita memutuskan untuk bermalam dalam mobil. Pukul 05.00 kita sampai di rumah Yudi dengan sambutan gong-gongan anjing miliknya. Setelah perapian kembali Backpack kita, saling menyeimbangkan beban tas kita masing-masing kita berangkat ke Daerah Tumpang.

Sesampai disana pukul 08.00 kabar buruk lagi yang kita terima, jalur Ranger (4x4 Toyota Land Cruiser) ataupun truk sayur di tutup karena ada perbaikan jalan. Akhirnya kita mendapat informasi ada tim mahasiswa dari tempat kuliah kita dulu juga berada di Tumpang menunggu pembukaan akses jalan, kita bergabung dengan tim mereka yang berjumlah 9 orang. Terdampar lha kita semua di rumah sopir truk sayur di dalam pasar tradisional tumpang selama 8 jam.

Terdampar di rumah sopir truk sayur

Sekitar pukul 16.00 kita mulai mengangkut backpack kedalam truk sayur bak terbuka. Selama perjalanan kita beristirahat di dalam bak truk tersebut, sekitar 1,5 jam atau ¾ dari perjalan kita ke Ranu Pani kita di suguhkan pemandangan sunset yang luar biasa.

Best sunset we ever seen

Pukul 18.20 kita sampai di pos lapor pendakian Gunung Semeru, kita bermalam di pondokan yang memang disediakan untuk beristirahat. Di pondokan yang ditunggui sebuah keluarga tersebut kita dapat memesan makanan (sop kentang) dan minuman hangat (kopi dan teh).

20 September 2009

Pagi hari kita disudah disambut hawa dingin Ranu Pani yang membekukan tangan dan kaki kita, sebelum melakukan pendakian kita sengaja berjalan-jalan di bagian belakang pondokan disana ada 2 buah Ranu (Arti Ranu adalah danau setahu saya,he3x). Ranu Pani adalah yang cukup dekat dengan pondokan, air disini sudah kotor di bandingkan dengan Ranu Regulo yang terletak lebih dalam, sekitar 10 menit perjalanan.


Ranu Pani

Ranu Regulo

Dimulai pukul 09.00 kita mulai pendakian kita, pendakian kali ini berbeda dimana kita menemukan hal-hal baru antara lain berdirinya 4 pos peristirahan yang terserbar selama perjalanan ke Ranu Kumbolo, di pos yang berukuran 4 x 4 meter tersebut kita dapat melepas dahaga dan lelah sejenak, bahkan di mungkinkan membuka tenda di dalam pos. Jarak antar pos kemungkinan sekitar 1-1.5 jam perjalanan, namun sayang semua pos tidak sempat kami abadikan.

Jalan aspal menuju pintu masuk pendakian


Pos 1

Pos 2

Berikut letak pos yang sempat kita ingat, pos 1 dekat dengan ujung jalan paving. Pos 2 dekat dengan tanjakan maut (apa tuh namanya, tanjakan yang ga uenak pol), pos 3 setelah jembatan merah atau daerah Watu Rejeng dan pos 4 letaknya 40 menit sebelum Ranu Kumbolo.

Jembatan Merah yang masih kokoh (ternyata pondasinya beton cor,he3x)

Jam 02.30 kita sampai di Ranu Kumbolo (2400m DPL), kita bertiga lebih lambat dari tim Pandala yang sudah sampai duluan di Kumbolo, karena faktor sarapan pagi. Kita bertiga agaknya malas mengisi perut ketika awal berangkat dari Ranu Pani. Di Ranu Kumbolo kita juga menemui hal baru. Pos yang rusak akibat vandalisme para pendaki yang tidak care, sekarang mempunyai teman yaitu pondokan 4 kamar yang baru, lengkap dengan Kamar Kecil, namun tidak dilengkapi saluran MCK yang baik, sehingga kotoran-kotoran para Highlander tidak tersalurkan dengan baik dan membuat Kamar Kecil tersebut sangat kotor. Kamar cukup besar bisa menampung sekitar 8 orang. Kami memutuskan bermalam di sini untuk menikmati bekunya Ranu Kumbolo.

Ranu Kumbolo tampak atas

Plang sambutan Ranu Kumbolo dengan background pondokan baru dan tanjakan cinta

Ranu Kumbolo

21 September 2009

Hawa menggigil membangunkan kita agar bergegas melanjutkan perjalanan kita, pukul 10.11 kita mulai mendaki Tanjakan Cinta yang dapat di tempuh kurang lebih 15 menit, menurut mitos apabila kita berhasil melewati tanjakan cinta tanpa berhenti, pengharapan kita mengenai asmara akan terkabul. Dari puncak Tanjakan Cinta kita akan di suguhkan view padang rumput yang sangat luas yaitu Oro-Oro Ombo, disini kita dapat memilih 2 jalur, jalur pendek dengan turun an yang curam atau jalur menyusuri lereng bukit yang landai dan lebih panjang.

Tanjakan Cinta (jangan hanya di pandang, lebih nikmat di daki)

Oro-Oro Ombo

Setelah melewati Oro-Oro Ombo setelah 1,5 Jam perjalanan kita sampai di Cemara Kandang dimana kita disambut oleh tingginya pohon cemara dan suara burung berkicau. Namun keadaan sangat jauh berbeda dengan pendakian kita tahun 2004 lalu dimana sebagin dari Cemara Kandang hangus terbakar. Dari cerita yang kami korek, kebakaran ini disebabkan oleh halar yang membelah area Cemara Kandang. Dari Cemara Kandang perjalanan kita lanjutkan ke area Jambangan disini kita melalui hutan rimbun yang menjulaikan dahan atau bagian dari pohon sampai ke bawah. Ada juga beberapa pohon semacam eidelwis (maaf tidak berhasil mendapatkan nama pohonnya)

Cemara Kandang setelah kebakaran

Unknow tree (mirip eidelwis kan?)

Jambangan

Kurang lebih 1 jam perjalanan sampailah kita di Kalimati dalam belutan kabut tebal. Disini juga ada pondokan baru yang sama dengan yang didirikan di Ranu Kumbolo, pondokan ini adalah pondokan pengganti dari sebelumnya yang hancur karena usia dan terpaan angin. Angin sangat kencang di Kalimati karena posisi nya yang terletak tepat di bawah kaki gunung Semeru. Disini ada sumber aliran air tanah yang menetes di lereng-lereng bebatuan terjal, nama tempat tersebut adalah Sumber Mani yang dapat di tempuh selama 20 menit perjalanan dari Kalimati, jalan ke Sumber Mani juga sudah sangat berbeda dari sebelumnya, banyak pohon tumbang dan tanah bekas longsoran. Air di Sumber Mani adalah air putih paling seger yang pernah saya minum. Air terasa dingin alami, bersih, dan tidak bau bahan kimia.

Hamparan Padang Kalimati

Pondokan di Kalimati

Aliran air di Sumber Mani

Selama perjalanan ke Kalimati kita bertiga juga tertinggal tim Pandala, kita bertiga memutuskan untuk beristirahat menunggu dini hari di Kalimati, namun tim dari Pandala yang usianya lebih muda dan belum pernah mendaki Semeru, agar semangatnya tidak loyo atau kecapaian mereka lanjut dan buka tenda di camp area sebelum Arcopodo. Barang-barang bawaan kita yang kurang lebih 10 Kg, kita tinggal disini dengan cara dimasukkan ke dalam semak-semak, ini sudah menjadi rahasia umum bahwa menyembunyikan barang bawaan di semak-semak. Beruntungnya kami saat mendaki ini tidak bertemu dengan Highlander yang resek. Sehingga setiba dari Puncak Mahameru barang kita tetap aman.

22 September 2009

Alarm kami berbunyi menunjukkan jam 23.00 malam. Diiringi dengan doa kita memulai pendakian kita ke puncak, berbekal Camera Digital, Air putih, Mizone 1 botol, Jaket, Senter, Baterai cadangan, Fisik dan Mental Highlander. Pukul 00.45 kita sampai di Arcopodo. Kita beristirahat sejenak sambil meminum Mizone agar perut kita yang kurang nyaman (konser kentut Semeru) hilang karena efek STMJ (mungkin expired) yang kita teguk ketika makan malam (dini hari) di Kalimati.

Arcopodo

Perjalanan kita sampai Arcopodo dengan mulus, bekunya Arcopdo kita lalui, namun setelah masuk daerah Kelik (nama orang yang meninggal di daerah ini) kami sempat tersesat. Kita menghadapi jalur yang sangat susah bahkan untuk berjalan kita harus berpegangan dengan akar-akar pohon di dinding longsoran, jalan setapak ini sudah bukan jalan menurut saya, ukuran yang cuman 20 cm dan miring ke arah jurang sudah sangat tidak layak untuk di lewati ini akibat dari longsor yang terjadi. Banyak jalur putus dan pohon tumbang di areal ini namun mental kita masih ada sehingga meskipun tersesat kami masih mencoba mencari jalan yang bisa dilewati. Sayang jalan – jalan setapak ini tidak sempat kami abadikan, karena kita sudah cukup gelisah melihat jalan ini.

Pukul 02.50 kita sudah melewati di Cemara Tunggal, Cemara Tunggal adalah satu-satunya cemara atau cemara terakhir yang menjadi tanda bahwa kita sudah di lereng bebatuan dan pasir Puncak Mahameru. Namun Cemara Tunggal ini menurut saya mungkin 5 tahun kedepan sudah tidak ada, karena kondisi fisiknya yang sudah condong untuk roboh akibat longsoran, sehingga nama Cemara Tunggal akan punah dan di ganti “Cemara Tumbang”, he3x.

Cemara Tunggal (lihat backgroundnya > 45°)

Tanjakan curam yang lebih dari 45 derajat serasa menghukum kaki kami agar melangkah lebih panjang dan lebih cepat ketimbang kita yang jatuh longsor kebawah. Disini mental kami sudah drop, karena masing – masing dari kita memiliki masalah. Wisnu, mata kakinya sakit sejak sebelum pos terakhir di Ranu Kumbolo. Redi, menggunakan sandal gunung, karena awalnya kita tidak menyangka akan mendaki Semeru, awal planning kita berangkat dari Surabaya adalah mendaki Arjuno Welirang yang tidak sekejam Semeru.

Pukul 06.57 kita berdua, saya dan Ronald berhasil menggapai puncak Mahameru. Dengan cara saling menarik dengan menggunakan tali pramuka. Jadi satu jalan mendahului kemudian menarik yang di bawah, begitu seterusnya gentian. Setelah sampai kita berfoto-foto ria agar sepadan dengan apa yang sudah kita kerahkan untuk menggapai Puncak Semeru ini.

Puncak Semeru, Mahameru, 3676 MDPL

On the way home

Pukul 07.27 kita mulai melakukan pendakian turun ke arah kalimati guna menggambil barang-barang milik kita. Disini lah mental kita di uji lagi. Karena kita mengakui kita terlalu meremehkan (karena merasa sudah pernah) kita membawa air minum hanya sedikit. Mulai lha kita Dehidrasi dibawah terik matahari. Terik matahari disana cukup hangat namun membakar kulit karena posisi kita lebih dekat dengan matahari ketimbang kita di kota Surabaya. Saya tidak ingat pastinya berapa jam yang kita menghabiskan waktu di jalan sembari berhenti sejenak guna beristirahat karena dehidrasi. Dehidrasi ini baru pertama kita alami, rasane luar biasa kita terasa sangat haus dan ingin terus tidur. Ini bahaya karena jika memang kita sampai ketiduran dan tidak ada yang membangunkan kita maka selesai sudah perjalanan hidup kita. Karena kita akan semakin dehidrasi karena di bawah sinar matahari. Untung lah waktu itu kita bertiga tertidur tidak bersamaan (bergantian) sehingga kita saling membangungkan satu sama lain.

Kurang lebih Pukul 02.41 kita sudah selesai makan siang dan tidur sejenak guna hendak melanjutkan perjalanan ke Ranu Kumbolo. Sekitar pukul 17.13 kita sampai di Ranu Kumbolo, disini kita juga beristirahat sejenak serta mengisi perut dengan mie instant yang sudah di sediakan oleh tim Pandala yang hendak makan malam juga. Mereka berbagi dengan kita yang hanya bertiga dan akan terus melanjutkan perjalanan. Tim Pandala bermalam di Ranu Kumbolo, pukul 19.14 dengan botol yang terisi air pas-pasan juga berangkat dengan target Pos 3. Selama perjalanan menuju pos 3 kita bertemu rekan-rekan pendaki (kurang lebih 70 orang yang terbagi dalam group – group kecil beranggotakan 5-7 orang) mereka kebanyakan dari Bekasi atau Jawa Barat guna menghabiskan waktu liburan mereka di Semeru. Sekitar pukul 23.11 kita berhasil sampai pos 3, cepat kita buka tenda di dalam pos tersebut dan tidur guna mempersiapkan tenaga untuk pulang besok.

23 September 2009

Ya pukul 06.57 kita repack carrier kita masing – masing untuk melanjutkan ke arah Ranu Pane. Sekitar 3 jam perjalanan kita sampai Ranu Pane. Disana tampak sekitar 5 Hardtop yang sedang mangkal, mereka jual mahal untuk membawa kita turun ke Pasar Tumpang dengan alasan kita hanya bertiga sedangkan mereka sudah semalaman menunggu pendaki turun. Namun kita yakinkan mereka bahwa tidak mungkin ada yang turun selain kita. Dengan Rp. 30.000 x 3 orang akhirnya pukul 11.41 kita di angkut karena ada salah satu sopir ada keperluan keluarga. Dan sampailah kita ke Pasar Tumpang sekitar 1,5 Jam perjalanan.

2 meter dari Pos 3 arah Ranu Pane

Ada beberapa saran dari penulis tentang Semeru bagi yang ingin mendaki gunung Semeru:

Jangan pernah anggap remeh Gunung Semeru, maut adalah taruhannya. Gunakan sepatu pendakian yang menutup mata kaki, Bawa stik pendakian ini terbukti ketika di lereng Semeru, kita di salip oleh rombongan Bule yang jauh lebih cepat tanpa longsor. Mereka menjejakkan kakinya dengan mantap di bantu dengan stik di kedua tangan mereka. Lebih baik sisa dari pada kurang ini istilah paling cocok untuk persediaan air. Ini terbukti juga ketika kita dehidrasi.

Jangan Ambil Apapun Kecuali Foto, Jangan Tinggalkan Apapun Kecuali Jejak Langkah, Selamat Mendaki.

7 Comments:

sus said...

nice posting brur.. dari dulu pengen ke puncak belom kesampian.. huks..

Tri Setyo Wijanarko said...

manteb banget broo ceritanya.. masih belum ada kesempatan juga neh buat ke semeru :(

citra_vienansyah said...

wuih...perjalanannya seru banget,tp trbyar dngn pemndangan alamnya yang indah pula ^_^

Dolphinrider said...

penuh perjuangan ya...tapi akhirnya sampe jg ... NICE!

amri said...

mantap. Tapi sampai maret masih ditutup untuk pendakian kan ya

zndhox said...

salam kenal,

awalnya saya lagi baca postingan tentang pantai geger (kebetulan saya orang bali yang belum pernah kesana.. hikz..!)
trus lanjut liat postingan ini..
keren!!!
jadi tergugah untuk ikut "bercanda" dengan alam ;) (one day, I will!!!)

4ff4 said...

ko redi wa haking dw ko ga bagi2 ^^,