Monday, August 11, 2008

trip 2 blitar

4-6 June 2008
(Perjalanan nebeng tapi jadi rekreasi beneran karena saya dianggap tamu oleh keluarga teman saya di Blitar. Kalau ingat itu jadi sungkan banget. Tapi tetep disyukuri deh, terimakasi banyak untuk keluarga dokter Sukardi dan pak Pitono sang sopir)

Hari ke-1
Biasanya perjalanan ke Blitar dari Surabaya bisa dicapai 2,5 - 3jam. Tergantung kepadatan lalulintas. Kala itu kami mampir ke Malang terlebih dahulu.
Selepas dari Malang kami melewati bendungan Karang Kates, karena keterbatasan waktu dan ternyata loket masuknya tutup maka kami tak sempat menyaksikan kemegahan bendungan besar di jawa timur ini. Kami melewati bendungan versi mininya, bendungan Lahor. Ada taman dan tempat berhenti yang disediakan. Ada beberapa penjual bakso dan es yang nongkrong di pinggir jalan. Kami menepikan mobil dan turun untuk menikmati pemandangan air dan bangunan bendungan. Parkir gratis kala itu, mungkin bukan hari libur.



Sesampainya di Blitar kami dimampirkan ke rumah bu Wardhoyo karena sejalan. Kala itu sudah jam 5, mestinya sudah tutup, tapi kata pak Pit tak apa kami meminta kunci rumah di rumah samping (yang ternyata kerabat bu Wardhoyo, bukan sekedar penunggu atau sejenisnya). Di area rumah bu Wardhoyo sendiri terdiri dari beberapa bangunan dan dihuni beberapa keluarga.

Rumah bu Wardhoyo sendiri sudah tidak ditempati, walaupun perabot ruangan-ruangan yang ada masih ditata sesuai fungsinya. Di bangunan belakang ada kamar mandi, ruang makan, dan garasi berisi mobil yang sudah tua banget. Secara keseluruhan saya kurang tertarik dengan interior penataan dan barang-barang di dalamnya. Di ruang depan terdapat banyakan lukisan Bung Karno dari berbagai pelukis dan foto-foto tentunya. Tapi berbeda sekali tingkat kenikmatannya seperti ketika mengunjungi house of Sampoerna Surabaya. Dan karena cahaya sudah minim sekali, saya malas mengambil barang menggunakan flash maka saya tak banyak mengambil foto di dalam.
Disediakan kotak untuk sumbangan sukarela, untuk mengambil foto sumbangan minimal 5rb.

bendungan Lahor & mrs wardhoyo's house

Hari ke-2
Tujuan pertama Makam Bung Karno. Sebenarnya area itu tertutup untuk mobil, parkir mobil disediakan tersendiri dan agak jauh. Ini dimaksudkan supaya pengunjung dapat berjalan kaki melewati kios-kios suvenir atau menaiki becak. Tapi itu tak berlaku untuk kami:p Pak Pit cuma menurunkan kami tepat di samping perpustakaan dan mereka akan menjemput kami setelah beberapa jam.

Ternyata dibangun sebuah bangunan baru di area Makam Bung Karno. Arsitekturnya bergaya minimalis modern, sangat bagus, ngga ada di Surabaya. Di sebelah kiri patung Soekarno yang sedang duduk dan membawa buku, terdapat museum Soekarno. Kami hanya perlu mengisi buku tamu tanpa perlu dipungut biaya apapun. Peringatan "anda tak perlu membayar apa-apa di area museum" tertempel di beberapa tempat. Isi museum lebih berjiwa Soekarno dan membangkitkan kenangan akan semangat dan jiwa nasionalis Soekarno. Sayangnya urutan kronologis foto kurang rapi. Begitu juga dengan teks penjelasan foto beraneka ragam. Selain bahasa Indonesia,beberapa foto lain keterangannya ditulis dalam bahasa Inggris dan 1-2 bahasa yang tak saya kenal (Belanda kali ya).

Hari itu penuh dengan rombongan anak SD. Sekeluarnya dari museum sembari diserbu pedagang suvenir yang 'lepas dari kandang' kami masuk ke perpustakaan. Sekali lagi kami harus melengkapi buku tamu. Koleksinya boleh juga, layaknya perpusatakaan umum lainnya. Hanya saja ini ber-AC dan jauh lebih bersih. Ada 1 ruangan khusus koleksi mengenai Soekarno. Mungkin beberapa buku terlarang dulu ada di sana. Ada fasilitas lift mungil untuk gedung 2 lantai itu. Lantai 2 belum semuanya ready to be used. Apalagi ruangan di gedung seberang (lantai 2 dari museum), masih tertutup bagi pengunjung.
Di perpustakaan kami menuju ke pendopo tempat nisan Soekarno. Melewati kolam teratai yang tak berbunga dan gedung khusus buku dan penitipan anak-anak (keren yah ada perhatian khusus untuk anak-anak).


Kami masuk ke tanpa mengisi buku tamu dan memberikan sumbangan sukarela, kami baru tahu keesokan harinya ketika hendak menuju ke area kios suvenir melewati pintu samping, bukan dari perpustakaan.

Begitu banyak warga yang nyekar, kamipun sebelum masuk gapura ditawari bunga-bunga. Pendoponya luar biasa 'mahal'. Penuh ukiran-ukiran indah nan detail mulai dari tiang sampai plafon, dan pasti itu kayu bukan sembarangan juga. Nisan marmernya sih tidak berubah sejak jama dahulu kala. Kalau anda mengambil foto dari arah frontal maka dari nisan seakan-akan muncul singa. i cannot see it anyway, imajinasiku kurang kali ya:p

Jalan keluar dari makam melewati area suvenir. Suvenir yang lagi trend benda-benda bikin ribut seperti gamelan kecil, suling, perkusi, dsb.

tips: masuk dari area perpustakaan dapat menghindari sumbangan sukarela

12.30
Perjalanan kami lanjutkan menuju Candi Penataraan yang tak jauh dari lokasi itu. Lagi-lagi kami dicegat untuk mengisi buku tamu dan sumbangan sukarela. Tak ada tiket. Kami melewati papan keterangan sejarah candi yang lumayan berbelit-belit dan lusuh rupanya. Jadi kami menebak-nebak sendiri sambil menaiki candi yang paling gede.

Ukiran-ukiran yang ada masih terlihat jelas dan lebih indah dibandingkan ukiran di borobudur atau Prambanan. Di belakang, setelah mencari, kami menemukan kolam pemandian yang konon (di mana si sejarah budaya indo yg ga berbau klenik) bisa bikin awet muda. Kata teman, kolam itu dulu ngga sekecil itu. Saya tak menemukan sumber airnya, yang saya bayangkan mengucur tapi saya yakin benar airnya mengalir, karena ada saluran pembuangan. Airnya benar-benar jernih. Dasar pasir dan ikan-ikan di dalamnya terlihat dengan jelas padahal kolam itu tidak dangkal, 2 meter lebih ada. Kami menikmati kejernihan air di bawah keteduhan pohon dan semilir angin. Nyamannnn benarrr...
tips: oleskan sanblock tebal-tebal karena langit cerah dan terik, lagipula berkunjung tengah hari membuat sesi pemotretan terhindar dari manusia yang berseliweran.



13.15
Tujuan berikutnya gunung Kelud, ini sih sudah bukan kabupaten Blitar, kurang lebih 1 jam dari Blitar. Jalanan menuju ke Kelud lewat daerah Nglegok (sepelan "e" nya seperti di kata "serong ke kanan"). Indah banget.. Penuh dengan tanaman tebu yg berbungaaa..... Dengan background gunung.
Kanan kiri hijau.

14.00
Kami sangat beruntung berkunjung bukan sabtu minggu. Krn hari2 itu, jalan menuju Kelud ditutup, ojek beraksi dengan tarif sekitar 10rb sekali jalan. Mau jalan ? Ya masi jauuuh. Sepiii nyaris tak melihat manusia. Trus mestinya waktu melewati pos penjaga kami lapor, tapi krn ga mudeng ya uda terus aja, ketemu warung di gate yg ditutup (scr resmi emang Kelud ga bole dikunjungi, dasarane org Indo). Kami, aku , Irma, pak Pit jalan. Bu Sukardi menunggu di warung ajah:D

Kawah ijo yg indah itu dah ga ada. Tertutup smua ama anak gunung baru. Kami bahkan sudah tdk bisa lihat lahar meleleh keluar kalo sore2. Uda 2 th sejak letusan itu..yah...
Sepi, sejuk, asap2 keluar dr samping2 n bawah gunung kecil itu.
tips: gunakan sepatu sneakers atau yang nyaman untuk jalan menanjak walaupun semua jalan telah di-aspal

more pictures:
Makam BK, candi Penataran


Hari ke-3
Kami sarapan di rumah makan Pasific dengan nasi bakmoy halalnya yang terkenal itu.
Tujuan kami hari itu adalah pantai Tambak Rejo. Sekitar 1 jam dari Blitar melewati gunung dengan aspal yang terjal dan tak selebar jalan menuju ke Kelud. Sekali lagi kami tiba di saat matahari sangat terik. Loket tutup, kondisi sangat sepi. Tapi itu tidak menyurutkan kekaguman kami akan indahnya pantai berpasir putih itu. Pantai Tambak rejo tak terlalu luas, bibir pantai bisa dijangkau dengan jalan kaki bolak balik dalam 30 menitan. Pasirnya bersih, lebih bersih daripada Kuta pastinya! Sayangnya ombak laut selatan terlalu besar untuk sekedar bermain.


tips: sunblock, kunjungi di hari biasa selain sabtu-minggu. Depot sangat jarang ditemui, karena itu bawalah makanan dan minuman sendiri untuk amannya. Tak jauh dari pantai terdapat pasar ikan. Harga ikan salem yang diasap 10ribu dapt 9 tusuk.
Kami sempat mampir ke Goa Embultuk, namun karena tidak membawa baju ganti maka kami urung masuk goa.
Kami juga mampir di beberapa monumen-monumen perjuangan.

15.00
Kami makan siang sore di bakso Gangsar. Bakso ini memiliki beberapa cabang di Blitar. Enak, gurih, beda dengan cita rasa manis khas blitar. Tak lupa kami mampir ke toko di gang untuk membeli oleh-oleh khas Blitar: wajik kletik, sale pisang, keripik jahe.

16.30
Saya meninggalkan Blitar menuju Malang bersama teman yang rela mampir dan gabung.

Thursday, August 07, 2008

Strasbourg

Mari kita jalan-jalan ke Perancis.

Strasbourg terletak di bagian utara Perancis yang berbatasan dengan Jerman. Aku masuk melalui Frankfurt, karena jarak dari Frankfurt ke Strasbourg lebih dekat dari jarak Paris - Strasbourg. Kalau kita naik mobil, waktu tempuh perjalanan kurang dari dua jam dari Frankfurt.

Strasbourg adalah kota kecil yang super indah! Modelnya kayak old town Eropa zaman dulu yang biasa kita lihat di TV-TV atau pas main The Sims. Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Prancis campur sama Bahasa Jerman. Dan ada dialek tertentu yang namanya d'Alsace.

Kebanyakan orang-orang disini nggak bisa Bahasa Inggris. So better have some French vocabulary before going here! Aku mati kutu nih kalo orang2 udah mulai ngajak ngomong.

Oke... di jantung kota Strasbourg, ada yang namanya Petite France. Tempat ini kayak sample dari pedesaan Prancis. Lihat bentuk-bentuk rumahnya dan gimana mereka menghias rumahnya.





Di Petite France ini ada beberapa jembatan yang ditandai dengan... apa sih namanya bangunan tinggi yang misah-misahin area itu ya? Pokoknya kayak yang di bawah ini deh. Indah ya?



Oke trus agak jauhan dikit dari Petite France, kayaknya bisa naik tram deh kesini.... ada katedral yang tinggiiiiiii banget dan cantik abis! Namanya Cathédrale Notre-Dame-de-Strasbourg. Jangan tanya deh kenapa namanya Notre Dame juga. Padahal di Paris juga ada katedral Notre Dame. Bentuknya juga mirip-mirip gini.


Menurut Wikipedia, bangunan setinggi 142 meter ini tertinggi di dunia pada tahun 1647 sampai 1874. Dan pada tahun 2000 ada percobaan bomb di Christmas market di sekitar gereja ini oleh Al Qaeda. Tapi bisa dicegah oleh polisi Prancis dan Jerman.

Oya... Strasbourg juga terkenal sebagai kota Natal. Katanya sih... paling indah waktu natal. Jadi pengen liat juga in some December! Tapi duit oh duit...

Means of transportation.


Aku ga bisa bantu banyak karena aku kemana-mana diantar naik mobil. Ntar deh kuupdate kalo udah nyoba public transportationnya.

Tapi disini ada bis, dan untuk daerah dalam kota sendiri ada tram. Berhubung sekarang lagi summer, banyak orang naik sepeda kemana-mana. Bisa sewa sepeda juga. Mungkin alternatif terakhir ini yang paling murah berhubung 1 Euro sekarang sudah Rp 14,000-an.


Dan kalau kita mau main turis-turisan, ada boat yang mengelilingi kanal di sekitar Petite France. Harganya ga tau karena belum kucoba. Dan kayaknya aku ga nyoba. Tapi di boat itu kita bakal dikasih headphone dimana ada rekaman suara guide yang diputar saat mengelilingi beberapa tempat tertentu.


Makanan

Ada restoran enak nih... Namanya Chez Meme di daerah Ittenheim. Ini di daerah outskirtnya Strasbourg. Harga ga tau, tapi dari pakaian orang2 yang pergi kesana, kayaknya rada mahal. Tapi makanannya enak dan tempatnya comfy banget. Kalo lagi jalan-jalan ke daerah itu, boleh deh ngunjungin tempat ini.

Terus ada cocktail khas d'Alsace yang namanya Kir Royal. Kalo kamu suka minuman beralkohol dan pas pergi ke Strasbourg, WAJIB pesan ini. Enak banget!!

Monday, July 14, 2008

Yogyakarta (2)

Petawisata kembali mengunjungi kota pelajar, pada tanggal 11-13 Juli 2008. Perjalanan kali ini Petawisata mencoba menginap di kawasan para backpackers bule-bule, di "international villages" dengan liputan Malioboro, Benteng Vredeburg, Pusat jajanan Mataram, pasar Beringharjo.

11 Juli 2008

Dari Surabaya, perjalanan ke Jogja dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih tujuh jam. Bus Patas Eka sudah menanti saat kami masuk ke peron terminal Bungurasih jam tujuh pagi. Kebetulan sekali, Bus langsung tancap gas begitu kami naik, jadi engga perlu nunggu lama-lama sampai penumpangnya penuh.

Harga tiket yang harus dibayar enampuluh enam ribu rupiah per orang sudah termasuk lunch di Resto Duta daerah sekitar Ngawi (kalo ga salah). Bus cukup bersih, AC juga berfungsi dengan baik bahkan cenderung over dingin :D. Di bagian depan sebelah kiri ada alat untuk memcahkan kaca jika keadaan darurat, dan di belakang sebelah kanan ada emergency door. Tampaknya kendaraan umum sekarang sudah lumayan memperhatikan keselamatan penumpang juga, bagus dah. Kernet bus juga baik, membantu mengangkat tas penumpang, selalu tersenyum ramah dan memberi informasi2 lengkap yang dibutuhkan.

Pukul 14.30, kami tiba di Jogja, kemudian sewa taxi milik terminal dengan ongkos 40 ribu untuk perjalanan kemanapun dalam lingkup batasan dalam kota, harga ini keknya terlalu mahal mengingat jogja adalah kota yang engga sebrapa luas.
Delta Homestay daerah jalan Prawirotaman adalah tujuan kami untuk bermalam. Beruntung sekali, kami sempat memesan kamar melalui fasilitas online di yogyes.com sebelumnya, karena tempat ini sering fully booked, terutama untuk high season seperti sekarang.

Ternyata benar juga, Prawirotaman memang layak disebut international villages, banyak sekali bule-bule bertebaran di daerah ini, bahkan di penginapanpun kami adalah satu-satunya tamu domestik berambut hitam, yang lain pada blonde semua.

Setelah sampai hotel kami beristirahat sejenak, kemudian sore hari keluar untuk cari makan. Kami keluar motel berjalan kaki menyusuri remang jalan Parangtritis sambil berburu tempat makan yg enak, engga sedikit juga tukang becak menyambut kami menawarkan harga perjalanan murah meriah. “lima ribu mas, muter2 jogja, cari dagadu, bakpia, batik”… bah, lima ribu muter jogja?? Gak mungkin ah, kami engga mengiyakan langsung tawaran itu, mengingat tips yang pernah kami dengar adalah bahwa tukang becak di Jogja sengaja "menjebak" dengan membawa ke tempat batik, bakpia, dll agar dia dapet tips dari tokonya kalau penumpangnya beli, kalaupun kita engga beli maka dia akan minta uang tambahan dengan alasa sudah muter2 gak jelas. ‘mboten pak, mlampah mawon’… itu jawaban singkat dari kami untuk menolaknya. Namun sepertinya tukang becak itu gigih juga, udah hampir 15 menit kami berjalan dia ngikutin terus dari belakang sambil mulut komat-kamit ala marketing… “malioboro mas? Badhe teng pundit toh? Adoh loh… bla…bla…”. Lama-lama kesel juga diikutin, akhirnya kami menyeberang jalan dengan tujuan si tukang becak engga bisa ngikutin lantaran jalan berlawanan arus. Tapi ya tetep aja ternyata, sementara kami jalan dia ngikutin dari seberang… ya amplop, ngeyel amat sih, mau ngajak kuat-kuatan Pak?? Tungguin aja sampe mampus, kami mo maem gudeg dulu hehe…

Pulang dari maem kami berniat ke persewaan motor untuk mempermudah mobilitas ke esokan harinya. Sayang, semua motor sudah dipesan, jadi kami engga kebagian satu pun, namun pemilik persewaan menyarankan untuk ke jalan di gang sebelah yang (katanya) bertebaran persewaan motor disana.

12 Juli 2008

Setelah mumuk dengan nyenyak, keesokan hari kami melanjutkan perjalanan untuk mencari persewaan motor. Ada banyak sekali persewaan, kira2 lima tempat sudah ditanya namun jawaban yang kami dapat selalu sama “motor kosong mas, habis dipesan”. ‘motor engga disewakan sama turis domestic mas, banyak kejadian di embat motornya hilang mereka kapok!!’ celetuk tukang becak. Ah.. ini mah akal-akalan si tukang becak aja biar kita naik becaknya dia. Kami pun cuek dan tetep cari… namun bener juga, tiap tempat yang ditanya selalu kosong. Kemudian flashback, kami mencoba mengingat kejadian kemaren, di depan hotel ada persewaan motor dan katanya semua motor udah di pesan, namun tadi pagi motor2 itu tampak masih tetap ada. Wah, jangan2 si Pak Becak bener inih? Siyal dah… ya udah, naik becak aja yuk ke Malioboro…

Rute dari Prawirotaman ke Malioboro ternyata tidak terlalu jauh, kalau ditempuh jalan kaki kira-kira cuma memerlukan waktu satu jam saja. Ada baiknya kalau jalannya melalui rute Kraton (dari Parangtritis belok kiri ke Mayjen Sutoyo), jadi banyak pemandangan yang dilihat biar gak jenuh, ada alun-alun, Taman Sari dan Kraton itu sendiri.

gbr : pasar beringharjo, malioboro, tempat oleh2 di mataram

Di Malioboro kami mengunjungi Pasar Beringhardjo, pasar ini tempat orang kulakan daster, baby doll, celana yang hampir semuanya bermotif batik. Pasar ternyata rameeee banget, kami Cuma masuk sebentar kemudian keluar, engga tahan dengan hiruk pikuknya. Setelah itu kami menyusuri malioboro dan berbelanja batik, belanja di Malioboro perlu ekstra hati-hati, barang yang ditawarkan biasanya berharga tiga atau empat kalio lebih mahal, jadi jangan sungkan-sungkan untuk menawar. Kami saat itu tertarik dengan mainan yang terbuat dari kayu....

“Mbak beli brapa itu?”,

‘sepuluh ribu mas, kalo yang diatas itu tiga belas ribu, bapaknya minta lima belas awalnya’ jawab seorang pembeli…

Beberapa saa kemudian kami kembali ke tempat itu lagi dan berniat ingin membeli…

“niki pinten pak?” ‘selangkung’.. (dua puluh lima ribu)

Nah loh… belom ada satu jam udah naik hampir tiga kali lipat. Dari Malioboro, kami blusukan ke dalam gang di sebelah hotel Mutiara, gang tersebut tembus ke jalan Mataram, tempat orang jualan makanan kecil khas jogja. Ada geplak, bakpia, jenang, wajik, intip dan lain-lain... wah, beli.. beli.. buat oleh-oleh..

Selain menyusuri Malioboro kami mampir ke benteng Vredeburg, benteng ini benteng peninggalan jaman Belanda, letaknya di ujung jalan Malioboro.

gbr : pintu masuk benteng, halaman depan, ruang diorama

Tiket masuk engga mahal, cukup 750 rupiah per orang, murah kan? :). Di dalam ada Diorama, Museum sejarah benteng didirikan dan beberapa ruangan lain yang saat kami kunjungi saat itu masih tutup (ato memang ga pernah dibuka? :p). Ruang diorama menurut kami keren sekali, banyak peristiwa jaman dahulu yang digambarkan dalam bentuk lukisan tiga dimensi dengan perspektif yang indah pula.

13 Juli 2008

Hari terakhir, duh.. sedih rasanya harus meninggalkan Jogja, masih banyak tempat yang ingin kami kunjungi, namun kami harus kembali lagi ke peradaban. Hari ini kami engga kemana-mana, cuma cari sarapan, beberes dan ngobrol2 menghabiskan waktu sambil nunggu jam untuk check out. Engga lupa juga foto2 mengabadikan motel yang murah meriah bernuansa alami ini :)

gbr : teras depan kamar, pintu masuk ke area penginapan, kolam renang

Penginapan di motel ini cukup menarik, dengan 130rb sudah dapet kamar yang bersih full AC dan kamar mandi dalem. Kalau mau yg lebih murah lagi ada yang dibawah seratus ribu, engga pakai AC dan joint bathroom, tapi jangan kuatir, kamar mandinya dijamin bersih kinclong.

gbr : petawisata contributors

Tips :
  • hati-hati dengan penawaran becak/ojek murah dengan iming-iming lima ribu muter2 Jogja
  • di Jogja sekarang ada fasilitas bus Trans Jogja yg bersih, manfaatkan semaksimal mungkin
  • tawar barang di Malioboro paling engga 1/3 dari harga yg diberikan
  • di Mirota batik (di Malioboro) tersedia peta jogja gratis buat panduan jalan-jalan
  • selalu tanya harga makanan jika masuk area lesehan, kebanyakan menu tanpa harga dan menjebak
Sampai jumpa Jogja, kami akan kembali lagi dalam liputan yang lebih lengkap dan menarik ;)...

* Salut buat bus Eka semoga tetep dipertahankan pelayanannya…
* terimakasih untuk Pak Dedy yg bantu untuk booking di Delta

* Terimakasih untuk hadiahnya yang terlalu awal :p, partner traveling yang paling berkesan… lain kali kita lanjutkan lagi berburu tengleng di kota Jogja... masih penasaran 'rek... :
)

Wednesday, March 26, 2008

Rafting - Pekalen River, Probolinggo

Songa - September 2007
Location: Pekalen river, probolinggo jatim

Kami ber-5 berangkat jumat malam, rencananya sih bermalam di tenda dan berapi unggun. Arah yang dituju ke probolinggo, pokoknya terus2 ae, kalo masuk kota pasuruan ya cari yg menuju probolinggo. Cari rumah makan Rawon Nguling yg besar itu, dari sana kurang lebih 30-45 menit lagi menuju base camp. Lupaaa.....soriii....pokoknya ada 2 jalur, malam itu mba yaya menempuh jalur yg lbh jauh, dia hafalnya gang setelah pabrik apa gitu, belok, trus sampai sana kontak2 an ma org songa yg di surabaya! (loh! canggih to!)

Acara melekan dan api unggun ditunda karena benar udara mayan dingin. Esok hari peserta grup dari bank mana gitu udah ramai senam bersama, kami tinggal sikat gigi dll lalu langsung menuju ke tempat pemberangkatan yang lain (mungkin yang kami pakai medan atas-duh serba ga jelas kan!!!!)

Pk 7.30 kami dengan diangkut truk ternak itu berangkat menuju sungai. Kami harus hiking 15 menitan, dgn medan naik turun. Yg lebih sakti para pembawa boat, mereka melewati medan yg sama. Instruksi dijelaskan ketika kami sudah di atas kapal (mungkin krn kami cuma ber-5, setahu saya ketika kami makan siang , ada rombongan dari bank laen yg dijelaskan sblm diangkut truk ternak). Ada beberapa instruksi yg harus dipatuhi seperti dayung maju, mundur, kiri (maksudnya yg sisi kanan pindah ke kiri, yg di kiri diam aja), boom (ini yg paling asik benernya, maksudnya kita akan melewati jeram, dan smua pesrta duduk masuk di tengah).
Cara duduk kita di pinggiran boat, cara pegang dayung dsb. Dalam 1 boat selain kami ber-5 ada 2 guide, 1 di depan, 1 di belakang yg selaku komando aba2.

Debit air saat itu tidak terlalu kencang, mengingat belum memasuki musim hujan walaupun sudah september! Di beberapa area, pemandangan sangat indah, kami leluasa berfoto (walaupun secara resmi dilarang mebawa foto) karena mungkin ketika kami turun tidak bebarengan dengan grup2 laen.Sebelum dekat dengan finish, ada rest shelter, disediakan pisang rebus dan teh jahe.Pada finishing ada jeram yg ditutup, tidak dapat dilewati, karena boat2 pasti terbalik, dalam jangka panjang mereka berencana 'menjinakkan' jeram itu dengan entah memecah batu atau anything else.

FOTO FOTO http://y3nnyw3n.multiply.com/photos/album/24/rafting_on_sept_07

Songa-Desember 2007
Kali ini dari rawong nguling kami menggunakan jalur yg lebih pendek utk sampai ke songa medan atas. Hampir saja kami dilarang turun karena cuaca mendung dan diperkirakan hujan. Tapi kami diijinkan turun, cuma ber-3 dari kami dengan 2 guide. Memang di tengah perjalanan sempat gerimis, tapi toh seperti biasa kami bisa leluasa bermain2 dan mengambil foto. Debit air memang lebih deras, tapi bagi saya tidak terlalu seru karena saya masih ingat medannya:(Dan konyolnya saya sempat terlempar dari boat. Penyebabnya diketahui setelah sesampai di surabaya, kenapa ya? Ternyata skenarionya....pada waktu jeram engga bole noleh ke belakang. Waktu itu saya iseng pengin liat guide di belakang mo ngerjain apa lagi, krn terkadang mereka ngerjain seperti ditrabrakin batu lah, di balik kapalnya lah..:D hehehe...mau nya bikin jatuh mba yaya yg di depan tp saya yg di samping kiri mba yaya malah yg terjatuh.


Regulo - Maret 2008 - Jumat agung
Berangkat ber 22, untuk memenuhi kuota sehingga dr harga 165 jadi 135. Tapi karena cuaca tak mendukung dan kurangnya manajemen waktu yang ketat, ketika kami sampai di base camp regulo pukul 2, hujan lebat menyambut. Sebelum hujan debit air sudah 70, ketika hujan, kayak melihat banjir bandang di sana.Karena bbrp teman harus kerja sabtunya, tersisa lah 9 dari kami.

Kami memang cuma medan bawah, tapi debit air yg 70 itu sudah cukup membuat segala sesuatu seru, baik jeram2nya, maupun lebar sungai.Hanya saja.....karena ada romgongan dr noars yang dialihkan dari medan atas ke bawah, jadi........teknisnya setelah jalan 1 per satu , sebelum jeram yang dianggap berbahaya, kami parkir dengan manis satu persatu, menunggu rescuer boat dr regulo n noars lewat n memasang safety tools, spt tali lah , ato ada yg jaga di titik tertentu.


Welll,,,bosan n capek menunggu nya:(Ada 2 jeram yang kami semua harus lewat jalan darat, cuma kapal kosong yag boleh lewat, krn akan terbalik (dengar dr cerita teman yg sblmnya rafting di sana, rescuer boat nya aja terbalik, boat tmnny jg terbalik ampe ada yg berdarah2).Di rest area, disediakan kelapa muda dan jemblem mungil. Jembatan disediakan utk yang terjun bebas, uji nyali. Wala medannya memang tidak sepanjang songa atas, layak dicoba.

Ditulis oleh : Yenny (Pyor) Wen