Showing posts with label Jawa Timur. Show all posts
Showing posts with label Jawa Timur. Show all posts

Sunday, April 10, 2011

Trenggalek: Pantai Prigi & Karang Gongso

Perjalanan dimulai dari Pare-Kediri yang memakan waktu kurang lebih 1,5 jam ke Tulung Agung.
Di TA saya mencangking teman saya sambil makan siang di Sup Ayam Pak Djono. Sup ayam ini terletak di jalan besar arah ke Ponorogo.

Ini SUP aka SOP loh, bukan soto ayam. :D Rasanya memang seperti soto tapi jauh lebih ringan. Di Pare sendiri terdapat jenis sup ayam seperti ini, lebih bening, tak terlalu kuning dan rasanya emang kaldu ayam plus bawang putih.
sop ayam

Selesai makan siang kami meluncur ke Trenggalek, melewati gunung (amboi melewati jalan meliuk2, daku paling sebal). Gunung apa ya namanya lupa, gunung marmer pokoknya. Jadi tak heran seharusnya banyak toko yang menjual keramik2 dari marmer, tapi kami tak berkunjung ke sana.

Pantai Prigi
Kami mampir ke pantai Prigi dahulu sebelum ke pantai Karang Gongso. Dua tempat ini terpisah tak terlalu jauh dan kalau dari arah Tulung Agung, Prigi lebih dekat. Kami sampai sekitar pukul 2 siang. Cuaca mendung jadi mengurangi teriknya mentari namun langit jadi agak pucat.
Pantai Prigi memiliki pasir coklat dan kalau sore biasanya terdapat nelayan2 menarik ikan. Hari itu sangat sepi mungkin karena hari biasa, loket parkir pun tak ada yang menjaga. Cukup bersih dan nyaman. Terdapat banyak warung2 penjual bakso dan es degan. Satu degan seharga 6000 tanpa sirup, 7000 dengan sirup.


pasir boleh coklat tetap indah karena bersih euy

Barisan bukit yang terlihat di belakang

Pantai Karang Gongso
Kami tak berlama-lama di Prigi karena kami tahu Karang Gongso bakal lebih indaaaaaaah....
Lagi, loket retribusi kosong melompong. Karang Gongso memliki area parkir yang lebih rapi. Berpaving. tapi kebanyakan toko-toko suvenir dan makan tutup. Satu2nya tempat mandi milik Mushola seharga 2000, entah mandi atau buang air kecil/besar.
Pasir pantainya putih. Semakin ke barat pasirnya makin kecil dan padat, lembut dan sangat cocok untuk membangun istana pasir! ^^
area parkir pantai Karang Gongso


Sisi timur dipenuhi pasir berbutih besar

Makin ke barat, pasir makin halus dan lembut! Tetap putih!



Foto2 dapat dilihat di sini.

Thursday, September 16, 2010

Masjid Al Akbar Surabaya

Libur lebaran kali ini engga mudik, masih trauma. Tahun lalu perjalanan mudik yang seharusnya ditempuh tiga jam jadi tujuh jam, macet padet dijalan. Entah kenapa, tiba-tiba volume kendaraan dijalanan bisa tumpah ruah sesak.

Setelah nganter istri Salat Ied dan bersilaturahmi ke Mertua. Siangnya kami mampir ke Masjid Al Akbar Surabaya atau lebih dikenal dengan Masjid Agung Surabaya.

Sebenarnya ini tempat ibadah ya, bukan tempat wisata. Tapi karena Masjid Agung termasuk salah satu icon kebanggaan dan banyak orang yang sekedar datang hanya untuk melihat-lihat dalamnya, jadi saya ulas saja singkat :).

Masjid Agung dari depan

Konon Masjid Agung ini adalah Masjid terbesar kedua di Indonesia setelah Masjid Istiqlal di Jakarta. Saya dari dulu memang penasaran pengen lihat dari dekat, seberapa "Wah"nya Masjid Agung ini. Apalagi naik ke puncak menara yang tingginya 99 meter itu.

Dari Kota Surabaya, jalan paling mudah adalah lewat jalan Ahmad Yani arah ke bundaran Waru. Sebelum bundaran ada u-turn ke kanan, putar balik aja. Nanti setelah itu langsung ambil kiri, sebelum Carrefour belok kiri, dah teruusssss aja sampai mentok (masuk jalan pagesangan). Gampang kan?.

Pancuran air

Tembok samping luar

Masjid ini mewah banget, jendela dan pintu yang nian besar terbuat dari kayu yang diukir kecil-kecil. Kubah di dominasi warna biru dengan jendela memutari tepinya. Beberapa pilar ditata sedemikian cantik sehingga menimbulkan pola refleksi yang "nyeni" saat cahaya matahari masuk melalui sela-sela jendela. Begitu pula cutting glass (apa istilahnya ya untuk jendela warna warni?) yang apik menghiasi dinding atas.


Bagian samping (jendela)


Kubah bagian dalam

Dalam Masjid agung (samping)


Bagian tengah dilihat dari atas

Untuk naik ke menara dikenakan karcis Rp. 3000,- rupiah dengan waktu kurang lebih 15 menit. Engga usah takut capek, karena naiknya pakai Lift mini yang bisa nampung beban 550Kg Max :D.

Tiket wisata menara

Menara

Dari atas Menara jika cuaca cerah kita bisa melihat jembatan SuraMadu dan pulau Madura, namun karena kemampuan kamera poket saya yang terbatas dalam mengabadikan gambar jadi tidak ada dokumentasinya buat oleh-oleh.

Untuk yang merayakan Idul Fitri, Petawisata mengucapkan Minal 'Aidin wal Faizin.

Salam wisata dari Kota Surabaya.

Friday, July 24, 2009

Kebun Teh Wonosari & Pantai Balekambang

Kamis kemaren ambil cuti, saya dengan rombongan berencana kabur sejenak dari kota Surabaya untuk melepas penat. Kami berlima menuju ke Kebun Raya Purwodadi, tapi karena teman saya sudah pernah mengulas Purwodadi disini jadi saya ulas yang lainnya saja, sebagai oleh-oleh saya aplot foto sekilas di Purwodadi buat kenangan :).

purwodadi

Setelah dari Purwodadi kami meluncur ke Kebun Teh di PT. Perkebunan Nusantara XII, Wisata Agro Wonosari. Lokasi agrowisata ini terletak di sebelah utara kota Malang, kira-kira sekitar 30km perjalanan. Berada di kecamatan Lawang di kaki gunung Arjuno. Kalau mau kesana gampang sih, tinggal tengok aja di kiri jalan (kalau dari arah Sby), ada Papan Gedhe banget yang nunjukin tempat ini.

Tempatnya luas buanget, kalau hari libur (katanya) ada kereta api mini gitu buat nganter pengunjung untuk keliling lokasi perkebunannya. Untuk tiket masuknya kami dikenakan biaya Rp. 45.000,- untuk lima orang, mobilnya gratis ga bayar :)

(1) kebun teh, (2) wisma rolas

Buat yang bawa kendaraan pribadi lebih enak, bisa muter2 sampe puas keliling kebun. Untuk yang mau bermalam juga bisa karena di tempat ini ada juga penginapan dan villa. Suasananya sejuk dingin dengan pemandangan pegunungan, emang cocok banget dah buat tempat peristirahatan. Selain itu sehari-harinya kita juga bisa melihat kegiatan mbok-mbok yang sedang memetik pucuk daun teh, serasa di desa gitu...

(1) wisma rolas, (2) kebun teh

Tempat pertemuan juga ada disini seperti foto diatas, mungkin yang berniat rapat dengan suasana yang segar biar kepala ngga puyeng tempat ini cocok banget.. (ato malah ketiduran di tengah rapat karena suasananya yg mendukung? :p)

Ditempat ini juga terdapat pengolahan daun teh menjadi teh alias pabriknya sendiri. Sayang karena saat itu kami engga punya waktu yang banyak jadi engga sempet mampir meninjau pabriknya. Kabarnya agar bisa masuk ke pabrik ada syaratnya yakni musti rombongan dan lapor dulu untuk persiapan guidenya disana. uhuks...

(1) bungkus teh kualitas 1, (2) supermarket

Sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat yang lain kami mampir sebentar di supermarket yang letaknya masih didalam kawasan Kebun Teh. Kantin ini menjual hasil Kebun dalam bentuk jadi. Ada teh kualitas satu, kualitas dua, teh hijau, madu dll.. kebanyakan produk2 lokal. Konon teh hasil produksi pabrik ini tidak dipasarkan secara umum, jadi wajib beli kalau kesini. Saya coba sebungkus yang kualitas nomer satu dengan harga sekitar Rp. 5.000,-. Tehnya wangi sedep, saat diseduh.. rasanya juga enak.. teh banget lah pokoknya... :p. Bubuknya rajangan lembut2.. jadi kalo pake saringan musti yang halus biar ampasnya bisa terangkat semua.


(1) Balekambang

Setelah puas, kami meluncur ke Pantai Balekambang. Letaknya ada di pantai pesisir selatan dengan jarak tempuh kira-kira 2 jam dari kota malang. Harga tiket masuk Rp. 25.000,- untuk lima orang. Pantainya bagus bening banget , tapi sayang.. pasir yang lembut ini dipenuhi dengan kerang kecil2 jadi sakit kalo pas dibuat jalan2 ato lari-lari dipasirnya. Di pantai ini juga ada sebuah Pura yang menjorok agak ke tengah laut.


(1) Pura Balekambang, (2) Teluk Balekambang

Pantai ini lumayan besar ombaknya dan ada beberapa bagian yang pantainya terjal ke dalam. Tapi jangan kuatir karena di bagian yang berbahaya sudah diberi tanda berupa bendera warna merah, jadi jangan coba-coba untuk berenang kecuali merelakan diri tenggelam digondol ombak. Kekurangan dari pantai ini adalah minimnya sarana buat pengisi perut :D. Warung-warung dikitttt banget & kalau menjelang petang ngeri, gelap gulita pantainya. Sepi dari penduduk sekitar.

Yah... itu hasil jalan-jalan kemaren, salam hangat dari Petawisata... ;)

Monday, July 13, 2009

Taman Safari Indonesia II

Hari minggu kemarin kami jalan-jalan ke TSI II di Prigen.
Tiket masuk untuk dewasa(6 thn ke atas) Rp 40.000/orang. Anak-anak Rp 35.000. Mobil Rp 10.000.
Dari area parkir awal pengunjung bisa memilih safari walk atau jalur dengan mobil.
Kami memilih yang pakai mobil.

Pertama memasuki wilayah America (kalau tidak salah). Di area ini perjalanan lancar2 saja sampai kami bersua dengan si "Teddy Bear". Beruang grizzly.
Si Teddy 'fall in love' dengan mobil kita. Mungkin karena posisi kendaraan terlalu dekat dengan beruang, atau ada yang buka kaca-jadi menarik perhatiannya.
PDKT dimulai dengan mencium-cium ban mobil sebelah kiri, terus entah apa lagi yang dikerjakan-soalnya dari posisiku kurang jelas. Mobil mau dijalankanpun juga tidak bisa, karena takut kakinya terlindas ban. Ntar bisa tambah marah.
Tiba-tiba...ada suara glodak-glodak?!?! Wah, ngapain aja tuh?
Trus, datanglah mobil pengawas dengan kecepatan cukup tinggi sambil nge-dim.
Teddy-nya langsung kabur. Ternyata, si Teddy tadi sempat mencicipi bemper depan mobil kami :D Sampai lubang-lubang.
Oleh si pengawas, kami diarahkan menepi di area yang aman kemudian mengenai ganti rugi disuruh langsung ke kantor.
Perjalanan sempat dilanjutkan sampai ke hutan burung, tapi si pemilik mobil kemudian memutuskan buat mengurus mobil dan pulang. Untung kami bawa 2 mobil, jadi ngga perlu pulang semua deh.



Sambil menunggu hubby n brother-in law mindahin barang2, aku sempat keliling2 sendiri sama mertua. Ada Tiger Cave. Resto dengan nuansa unik, dimana pengunjung bisa menikmati hidangan di dekat 2 harimau putih yang super big size!! (kayaknya di Singapore ada juga resto semacam ini). Harimaunya keren banget! Bolak balik ngintip di balik jendela besar. Mungkin mereka ngeliat tamu resto itu kyk menunya mereka ya hehehehe...

Ada lagi area orang utan. Ada yang asyik main ayunan. Guling-guling. Berjemur, dll. Lucu sekali. Seperti orang beneran :)

Spot foto bersama macan. Untuk foto bersama binatang (ada macan sama orang utan) pengunjung cukup membayar Rp 10.000 (foto dengan kamera sendiri).
Singa/macan yang cukup aman buat berpose ada Yulia (7bln) & Christina (14bln). Mereka 2 bersaudara. Siang itu kerjanya tidur doank. Singa/macan baru aktif sewaktu malam karena mereka termasuk hewan nocturnal. Baru tumbuh surai sekitar usia 5thn. 1 jantan bisa mempunyai betina sampai 20 ekor. Penglihatannya di waktu malam seperti penglihatan kita di waktu siang-bahkan malah beberapa kali lipat jarak pandangannya.Begitulah penjelasan petugasnya.
Jadi siang itu mereka dibangunin buat sekedar berpose sebentar dgnku. Untuk menarik perhatiannya dikasi mainan. Wah, beratnyaaa.... Bulunya agak kasar. Kalau lebih dewasa tambah kasar lagi. Kukunya sudah dipotong. Telapak tangannya besar sekali.


TSI II ini cocok dikunjungi oleh anak2. Selain untuk bermain juga bisa untuk belajar. Berbagai wahana untuk anak2 bnyk dijumpai di sini. Tiket terusan Rp 35.00 (kecuali sepeda layang). Kalau tidak menggunakan tiket itu harga per wahana rata2 Rp 10.000.

Berbagai show juga disajikan sebagai sarana hiburan & edukasi. Edukasi ini penting, untuk pengunjung dewasa sekalipun. Melalui show2 ini kita diajak untuk lebih mengenal & mencintai lingkungan sekitar. Misalnya dengan membeli kaos hasil lukisan gajah (Rp 80.000 untuk dewasa/Rp 70.000 untuk anak2) atau Rp 10.000 ke kakatua, kita sedikit banyak memberikan donasi untuk kelestarian mereka.

Tuesday, December 09, 2008

(Un)plan Bromo

Liburan idul adha kemarin (6-8 Dec) diajak teman ke Jatiroto.
Respon pertama: "Ada apanya di sana??"
"Ya....nggak ada apa2nya :D. Kalau jadi, kamu aku ajak ke kaki semeru. Atau diajak Ari liat lokasi berburu."
Wih...bole juga. Pikar pikir...ngga ada salahnya sih. Lagian sudah lama banget ngga jalan2.
Kerja di kantor perusahaan jasa bikin kakiku terpasung di kantor...hiks.
Sesekali menghirup udara pedesaan n mengistirahatkan mata liat yg hijau2 boleh juga tuh.

So, jumat sore (5Dec) baru beli tiket KA Cantik jurusan Surabaya-Jember.
Turun di Tanggul, nanti qta dijemput di situ.
Berangkat jam 16.00. Harga Rp40rb/tiket (dapet kelas bisnis)-yang executive sudah full (rp 55rb). Menurut "bisikan" seorang teman, ambil aja yg bisnis, nanti kalau di executive ada yg lowong bisa upgrade & pindah dgn bayar selisihnya.

Ternyata pada hari H (6Dec), kereta terlambat sekitar 20menit.
Sebelum KA Cantik, Mutiara Selatan masuk dulu. Gerbong kelas bisnis tampak menyedihkan. Kalau dilihat dari luar, gelap sekali di dalam gerbong. Jendela kecil, tampaknya pengap(sudah membayangkan gerbong KA Nazi yang dulu buat menyiksa orang2 Yahudi-terlalu jauh nih imaginasinya :P)
Giliran KA Cantik masuk, ternyata sami mawon (sama saja). Tapi tak sejelek yang aku bayangkan tadi. At least ga pengap. Pake fan. Agak gelap iya, apalagi di luar mendung tebal banget. Petugas keliling membagikan bantal (yang ternyata BAYAR!). Ditagih waktu hampir mendekati akhir perjalanan. Setauku makan minum kalo ambil memang bayar, tapi kukira bantal itu free. Ternyata kena charge Rp 2500 (cuma bayar 2400 gara2 nyari2 uang kecil ga ada...hehehe). Atau memang aku yang katrok ya??? (*menyebalkan). Untungnya temanku, Lusi-bawain bekal dari rumah. Nasi udang (sluurp). Udang goreng tepung biasa seh, tapi jadi enak banget kalo dimakan pas di jalan, meskipun cuma 2 biji. Lebih menarik dari roti coklat yang kubawa buat pengganjal perut.
Kereta melewati Jatiroto, berhenti sebentar (entah di stasiunnya/dimana, karena di situ mestinya tidak stop. Di luar gelap banget ngga kelihatan apa2). Kira2 1/2 jam kemudian turun di Tanggul. Dijemput Ari, teman Lusi.

Dari stasiun qta makan kupang lontong (depan bank BRI).
Yummy juga. Dikasi perasan air jeruk. Kerasa banget. Bumbunya ngga seperti di Surabaya/Sidoarjo yg item, tapi agak coklat. Ibunya ngeracik bahan2 lain di piring qta, jadi kelihatan dia nyampurin gula pasir, ada bawang juga + lombok bagi yang doyan pedas.
Di sini kupang lontong dikasi tahu. Sayang sate kerangnya habis, dan aku tidak melihat ada krupuk di situ. Minum es degan (sayang dapetnya kelapa tua-alias keras)

Malam itu still no idea besoknya mau ngapain

Day2: 7 Dec
Pagi2 sudah dikasi suguhan pastel goreng sama bakpao..lumayaaaan...cuma kurang lombok ijo aja :)
Ngobrol2 sama Ari dan papinya...akhirnya diputuskan jalan2 ke Bromo. Yah...nothing to loose.
Ke mana saja ok yang penting jalan..hehehe.
berangkat hampir 8.30. Ambil arah Lumajang. Sampai Bromo sekitar 3 jam kemudian.
Sayang sepanjang hari hujan gerimis & banyak kabut. Jadi kawah, gunung batok & teman2nya sering ga kelihatan. kabut melulu.

Mampir di Lava View Resto. Niatnya mau makan, ternyata resto belum buka. Turis2 juga sedikit, kebanyakan bule2. Ditawari naik kuda-75 ribu. Ogah.
Kabut tersingkap sebentar, tapi terus nutupin gunung lagi. Jadi g bisa dapat foto bagus
Berhubung hawa dingin, pesen yang hangat2 pasti enak. Soto ayam kena Rp19000, teh hangat/kopi sekitar 5rb

Pulang lewat Ranu Pane. Padahal qta pake mobil "Kuda" tapi setelah dapet info kalau mobil colt bisa lewat beranilah qta lewat sana.
Yang agak mendebarkan waktu lewat laut pasir. Kondisi gerimis, agak bingung arah juga (ngikutin ada jejak ban). Di situ sepi, ngga kelihatan ada mobil/kendaraan lain. Pasir yang luas, hitam, sunyi...wah...gimanaaaa gitu rasanya. Tapi seru juga. Hujan juga ada sisi positifnya. Mobil qta bisa lewat laut pasir itu karena tanah jadi lebih padat, dan kagak berdebu.
Beberapa kali terhalang kubangan air yang agak besar, 1x ketemu medan yg agak licin, jadi terpaksa mundur agak jauh buat ambil ancang2 naik. It worked!! ^^

Sepanjang perjalanan di kiri kanan seperti karpet hijau. Very beautiful!
Seperti scene Shire-desanya Frodo dkk di Lord of the Ring
Lagi2, sayang cuma bisa turun ngga sampe 5 menit buat motret, itu juga 99% dalam kondisi hujan









Akhirnya si "Kuda" selip juga di rintangan terakhir. Memang cukup terjal & licin. Ari dulu pernah lewat situ pake Jip juga sulit, apalagi ini. Ancang2 beberapa kali gagal. Tambah lama ancang2 makin jauh, yang terakhir hampir berhasil tinggal sedikit-tapi masih aja si Kuda ngga mau maju2 lagi. Untung ada truck kecil yg mau lewat dr arah Ranu Pane, jadi dibantu dikasi pasir kasar.
Beberapa saat kemudian, dari arah belakang kita ada mobil lain juga mau lewat...jadi mereka rame2 bantuin qta, narik dari depan. Berhasil! Berhasil!

Sampai Ranu Pane sempat menikmati sejenak danau yg tenang di sana (maaf, tidak sempat mengambil gambar). Coba tebak, dari mana aku liat danau ini-di depan kamar mandi dekat pos lapor pendakian! Alangkah tidak romantisnya!
Eniwei, di tengah danau ada pura (seperti di Bedugul). Airnya hijau gelap. Ada 2 bebek bermain di tepi danau. Jadi teringat masa2 indah waktu ke Ranu Kumbolo dulu (tapi kok dulu aku ga tau ada danau ini ya...payah)

Note: lebih mudah kalau datang lewat Ranupane karena jalan turun-tidak sampai selip.

Makan malam di Lumajang. Lusi pengen makan mi kuah. Waktu sampe depotnya (Jl. Jend Suprapto, lokasi di belokan-sorry, lupa liat namanya)-ternyata belum buka. Kabarnya kok 'wuenak'. Secara bukan penggemar mi, aku sih ngikut aja mau makan di mana. Jadi sambil menunggu, kita mampir dulu di mall (atau plaza) disana. Balik lagi jam 5an.

Awalnya aku mau merekomendasikan tempat ini, tapi bagi yang sebelum datang perutnya 'keroncongan berat', aku sarankan buat cari tempat lain aja-karena tempat ini masaknya 'pake lama (banget)'. Kira2 nunggu makanan kelar 1 jam (weleeeeeeeh). Mungkin aja karena si taci' masaknya pake arang, jadi matangnya lebih lama ya. Meskipun begitu, tetap saja banyak yg pesen & (so pasti) ngantri. Untung pesenan yang bakwan gorengnya keluar dulu.
PS: Porsi di sini ukuran XL, alias big, alias besar...so bisa ngirit berbagi. Mi kuahnya buat yg 'bertanki kecil' bisa dibagi 3-4 orang.

Pengeluaran hari ini: 0 (nol, zero)-alias papinya Ari yg nraktir..huehehehehe

Day 3: 8 Dec
Breakfast: Brownies kukus Amanda, tempe mendoan dari Jateng (wenaak...tapi-kurang lombok hijau, yang akhirnya aku dapat), bakwan (dari depot kemarin-enak bumbu sambelnya).
Pencuci mulut: Incip es putar nangka

Hari ini diajak 'city tour' keliling Jatiroto dan rencana makan bakwan Eddy di Jember.
Yang jalan cuma aku, Lusi sama Ari.
Sebagian besar rumah2 penduduk di sana merupakan rumah pegawai pabrik gula. Ada yg gede2 juga, ada yang seperti rumah panggung, halamannya luas. Melewati alun2 (pohon beringin yg dilelilingi pagar besi), lewat pabrik gulanya, gudang gula, dikasi tau lokasi mereka biasanya 'mbedil' (=menembak). Ari & papinya hobby berburu celeng.

Sampai di Jember ternyata bakwan Eddy tutup. Yah, ga heran...hari itu Idul Adha, jadi ya cuman mampir sebentar ke teman Lusi, liat mall baru (Golden Mall), liat mobil double cabin yg dipajang di Carrefour n terakhir mampir ke Om ku yang kebetulan rumahnya deket Carrefour (tidak direncanakan juga). Setelah itu kita kembali ke Jatiroto karena akan dijemput travel (dari Jember) jam 4 sore(starting from Jember).
Libur telah usai...Libur telah usai...

Monday, August 11, 2008

trip 2 blitar

4-6 June 2008
(Perjalanan nebeng tapi jadi rekreasi beneran karena saya dianggap tamu oleh keluarga teman saya di Blitar. Kalau ingat itu jadi sungkan banget. Tapi tetep disyukuri deh, terimakasi banyak untuk keluarga dokter Sukardi dan pak Pitono sang sopir)

Hari ke-1
Biasanya perjalanan ke Blitar dari Surabaya bisa dicapai 2,5 - 3jam. Tergantung kepadatan lalulintas. Kala itu kami mampir ke Malang terlebih dahulu.
Selepas dari Malang kami melewati bendungan Karang Kates, karena keterbatasan waktu dan ternyata loket masuknya tutup maka kami tak sempat menyaksikan kemegahan bendungan besar di jawa timur ini. Kami melewati bendungan versi mininya, bendungan Lahor. Ada taman dan tempat berhenti yang disediakan. Ada beberapa penjual bakso dan es yang nongkrong di pinggir jalan. Kami menepikan mobil dan turun untuk menikmati pemandangan air dan bangunan bendungan. Parkir gratis kala itu, mungkin bukan hari libur.



Sesampainya di Blitar kami dimampirkan ke rumah bu Wardhoyo karena sejalan. Kala itu sudah jam 5, mestinya sudah tutup, tapi kata pak Pit tak apa kami meminta kunci rumah di rumah samping (yang ternyata kerabat bu Wardhoyo, bukan sekedar penunggu atau sejenisnya). Di area rumah bu Wardhoyo sendiri terdiri dari beberapa bangunan dan dihuni beberapa keluarga.

Rumah bu Wardhoyo sendiri sudah tidak ditempati, walaupun perabot ruangan-ruangan yang ada masih ditata sesuai fungsinya. Di bangunan belakang ada kamar mandi, ruang makan, dan garasi berisi mobil yang sudah tua banget. Secara keseluruhan saya kurang tertarik dengan interior penataan dan barang-barang di dalamnya. Di ruang depan terdapat banyakan lukisan Bung Karno dari berbagai pelukis dan foto-foto tentunya. Tapi berbeda sekali tingkat kenikmatannya seperti ketika mengunjungi house of Sampoerna Surabaya. Dan karena cahaya sudah minim sekali, saya malas mengambil barang menggunakan flash maka saya tak banyak mengambil foto di dalam.
Disediakan kotak untuk sumbangan sukarela, untuk mengambil foto sumbangan minimal 5rb.

bendungan Lahor & mrs wardhoyo's house

Hari ke-2
Tujuan pertama Makam Bung Karno. Sebenarnya area itu tertutup untuk mobil, parkir mobil disediakan tersendiri dan agak jauh. Ini dimaksudkan supaya pengunjung dapat berjalan kaki melewati kios-kios suvenir atau menaiki becak. Tapi itu tak berlaku untuk kami:p Pak Pit cuma menurunkan kami tepat di samping perpustakaan dan mereka akan menjemput kami setelah beberapa jam.

Ternyata dibangun sebuah bangunan baru di area Makam Bung Karno. Arsitekturnya bergaya minimalis modern, sangat bagus, ngga ada di Surabaya. Di sebelah kiri patung Soekarno yang sedang duduk dan membawa buku, terdapat museum Soekarno. Kami hanya perlu mengisi buku tamu tanpa perlu dipungut biaya apapun. Peringatan "anda tak perlu membayar apa-apa di area museum" tertempel di beberapa tempat. Isi museum lebih berjiwa Soekarno dan membangkitkan kenangan akan semangat dan jiwa nasionalis Soekarno. Sayangnya urutan kronologis foto kurang rapi. Begitu juga dengan teks penjelasan foto beraneka ragam. Selain bahasa Indonesia,beberapa foto lain keterangannya ditulis dalam bahasa Inggris dan 1-2 bahasa yang tak saya kenal (Belanda kali ya).

Hari itu penuh dengan rombongan anak SD. Sekeluarnya dari museum sembari diserbu pedagang suvenir yang 'lepas dari kandang' kami masuk ke perpustakaan. Sekali lagi kami harus melengkapi buku tamu. Koleksinya boleh juga, layaknya perpusatakaan umum lainnya. Hanya saja ini ber-AC dan jauh lebih bersih. Ada 1 ruangan khusus koleksi mengenai Soekarno. Mungkin beberapa buku terlarang dulu ada di sana. Ada fasilitas lift mungil untuk gedung 2 lantai itu. Lantai 2 belum semuanya ready to be used. Apalagi ruangan di gedung seberang (lantai 2 dari museum), masih tertutup bagi pengunjung.
Di perpustakaan kami menuju ke pendopo tempat nisan Soekarno. Melewati kolam teratai yang tak berbunga dan gedung khusus buku dan penitipan anak-anak (keren yah ada perhatian khusus untuk anak-anak).


Kami masuk ke tanpa mengisi buku tamu dan memberikan sumbangan sukarela, kami baru tahu keesokan harinya ketika hendak menuju ke area kios suvenir melewati pintu samping, bukan dari perpustakaan.

Begitu banyak warga yang nyekar, kamipun sebelum masuk gapura ditawari bunga-bunga. Pendoponya luar biasa 'mahal'. Penuh ukiran-ukiran indah nan detail mulai dari tiang sampai plafon, dan pasti itu kayu bukan sembarangan juga. Nisan marmernya sih tidak berubah sejak jama dahulu kala. Kalau anda mengambil foto dari arah frontal maka dari nisan seakan-akan muncul singa. i cannot see it anyway, imajinasiku kurang kali ya:p

Jalan keluar dari makam melewati area suvenir. Suvenir yang lagi trend benda-benda bikin ribut seperti gamelan kecil, suling, perkusi, dsb.

tips: masuk dari area perpustakaan dapat menghindari sumbangan sukarela

12.30
Perjalanan kami lanjutkan menuju Candi Penataraan yang tak jauh dari lokasi itu. Lagi-lagi kami dicegat untuk mengisi buku tamu dan sumbangan sukarela. Tak ada tiket. Kami melewati papan keterangan sejarah candi yang lumayan berbelit-belit dan lusuh rupanya. Jadi kami menebak-nebak sendiri sambil menaiki candi yang paling gede.

Ukiran-ukiran yang ada masih terlihat jelas dan lebih indah dibandingkan ukiran di borobudur atau Prambanan. Di belakang, setelah mencari, kami menemukan kolam pemandian yang konon (di mana si sejarah budaya indo yg ga berbau klenik) bisa bikin awet muda. Kata teman, kolam itu dulu ngga sekecil itu. Saya tak menemukan sumber airnya, yang saya bayangkan mengucur tapi saya yakin benar airnya mengalir, karena ada saluran pembuangan. Airnya benar-benar jernih. Dasar pasir dan ikan-ikan di dalamnya terlihat dengan jelas padahal kolam itu tidak dangkal, 2 meter lebih ada. Kami menikmati kejernihan air di bawah keteduhan pohon dan semilir angin. Nyamannnn benarrr...
tips: oleskan sanblock tebal-tebal karena langit cerah dan terik, lagipula berkunjung tengah hari membuat sesi pemotretan terhindar dari manusia yang berseliweran.



13.15
Tujuan berikutnya gunung Kelud, ini sih sudah bukan kabupaten Blitar, kurang lebih 1 jam dari Blitar. Jalanan menuju ke Kelud lewat daerah Nglegok (sepelan "e" nya seperti di kata "serong ke kanan"). Indah banget.. Penuh dengan tanaman tebu yg berbungaaa..... Dengan background gunung.
Kanan kiri hijau.

14.00
Kami sangat beruntung berkunjung bukan sabtu minggu. Krn hari2 itu, jalan menuju Kelud ditutup, ojek beraksi dengan tarif sekitar 10rb sekali jalan. Mau jalan ? Ya masi jauuuh. Sepiii nyaris tak melihat manusia. Trus mestinya waktu melewati pos penjaga kami lapor, tapi krn ga mudeng ya uda terus aja, ketemu warung di gate yg ditutup (scr resmi emang Kelud ga bole dikunjungi, dasarane org Indo). Kami, aku , Irma, pak Pit jalan. Bu Sukardi menunggu di warung ajah:D

Kawah ijo yg indah itu dah ga ada. Tertutup smua ama anak gunung baru. Kami bahkan sudah tdk bisa lihat lahar meleleh keluar kalo sore2. Uda 2 th sejak letusan itu..yah...
Sepi, sejuk, asap2 keluar dr samping2 n bawah gunung kecil itu.
tips: gunakan sepatu sneakers atau yang nyaman untuk jalan menanjak walaupun semua jalan telah di-aspal

more pictures:
Makam BK, candi Penataran


Hari ke-3
Kami sarapan di rumah makan Pasific dengan nasi bakmoy halalnya yang terkenal itu.
Tujuan kami hari itu adalah pantai Tambak Rejo. Sekitar 1 jam dari Blitar melewati gunung dengan aspal yang terjal dan tak selebar jalan menuju ke Kelud. Sekali lagi kami tiba di saat matahari sangat terik. Loket tutup, kondisi sangat sepi. Tapi itu tidak menyurutkan kekaguman kami akan indahnya pantai berpasir putih itu. Pantai Tambak rejo tak terlalu luas, bibir pantai bisa dijangkau dengan jalan kaki bolak balik dalam 30 menitan. Pasirnya bersih, lebih bersih daripada Kuta pastinya! Sayangnya ombak laut selatan terlalu besar untuk sekedar bermain.


tips: sunblock, kunjungi di hari biasa selain sabtu-minggu. Depot sangat jarang ditemui, karena itu bawalah makanan dan minuman sendiri untuk amannya. Tak jauh dari pantai terdapat pasar ikan. Harga ikan salem yang diasap 10ribu dapt 9 tusuk.
Kami sempat mampir ke Goa Embultuk, namun karena tidak membawa baju ganti maka kami urung masuk goa.
Kami juga mampir di beberapa monumen-monumen perjuangan.

15.00
Kami makan siang sore di bakso Gangsar. Bakso ini memiliki beberapa cabang di Blitar. Enak, gurih, beda dengan cita rasa manis khas blitar. Tak lupa kami mampir ke toko di gang untuk membeli oleh-oleh khas Blitar: wajik kletik, sale pisang, keripik jahe.

16.30
Saya meninggalkan Blitar menuju Malang bersama teman yang rela mampir dan gabung.

Wednesday, March 26, 2008

Rafting - Pekalen River, Probolinggo

Songa - September 2007
Location: Pekalen river, probolinggo jatim

Kami ber-5 berangkat jumat malam, rencananya sih bermalam di tenda dan berapi unggun. Arah yang dituju ke probolinggo, pokoknya terus2 ae, kalo masuk kota pasuruan ya cari yg menuju probolinggo. Cari rumah makan Rawon Nguling yg besar itu, dari sana kurang lebih 30-45 menit lagi menuju base camp. Lupaaa.....soriii....pokoknya ada 2 jalur, malam itu mba yaya menempuh jalur yg lbh jauh, dia hafalnya gang setelah pabrik apa gitu, belok, trus sampai sana kontak2 an ma org songa yg di surabaya! (loh! canggih to!)

Acara melekan dan api unggun ditunda karena benar udara mayan dingin. Esok hari peserta grup dari bank mana gitu udah ramai senam bersama, kami tinggal sikat gigi dll lalu langsung menuju ke tempat pemberangkatan yang lain (mungkin yang kami pakai medan atas-duh serba ga jelas kan!!!!)

Pk 7.30 kami dengan diangkut truk ternak itu berangkat menuju sungai. Kami harus hiking 15 menitan, dgn medan naik turun. Yg lebih sakti para pembawa boat, mereka melewati medan yg sama. Instruksi dijelaskan ketika kami sudah di atas kapal (mungkin krn kami cuma ber-5, setahu saya ketika kami makan siang , ada rombongan dari bank laen yg dijelaskan sblm diangkut truk ternak). Ada beberapa instruksi yg harus dipatuhi seperti dayung maju, mundur, kiri (maksudnya yg sisi kanan pindah ke kiri, yg di kiri diam aja), boom (ini yg paling asik benernya, maksudnya kita akan melewati jeram, dan smua pesrta duduk masuk di tengah).
Cara duduk kita di pinggiran boat, cara pegang dayung dsb. Dalam 1 boat selain kami ber-5 ada 2 guide, 1 di depan, 1 di belakang yg selaku komando aba2.

Debit air saat itu tidak terlalu kencang, mengingat belum memasuki musim hujan walaupun sudah september! Di beberapa area, pemandangan sangat indah, kami leluasa berfoto (walaupun secara resmi dilarang mebawa foto) karena mungkin ketika kami turun tidak bebarengan dengan grup2 laen.Sebelum dekat dengan finish, ada rest shelter, disediakan pisang rebus dan teh jahe.Pada finishing ada jeram yg ditutup, tidak dapat dilewati, karena boat2 pasti terbalik, dalam jangka panjang mereka berencana 'menjinakkan' jeram itu dengan entah memecah batu atau anything else.

FOTO FOTO http://y3nnyw3n.multiply.com/photos/album/24/rafting_on_sept_07

Songa-Desember 2007
Kali ini dari rawong nguling kami menggunakan jalur yg lebih pendek utk sampai ke songa medan atas. Hampir saja kami dilarang turun karena cuaca mendung dan diperkirakan hujan. Tapi kami diijinkan turun, cuma ber-3 dari kami dengan 2 guide. Memang di tengah perjalanan sempat gerimis, tapi toh seperti biasa kami bisa leluasa bermain2 dan mengambil foto. Debit air memang lebih deras, tapi bagi saya tidak terlalu seru karena saya masih ingat medannya:(Dan konyolnya saya sempat terlempar dari boat. Penyebabnya diketahui setelah sesampai di surabaya, kenapa ya? Ternyata skenarionya....pada waktu jeram engga bole noleh ke belakang. Waktu itu saya iseng pengin liat guide di belakang mo ngerjain apa lagi, krn terkadang mereka ngerjain seperti ditrabrakin batu lah, di balik kapalnya lah..:D hehehe...mau nya bikin jatuh mba yaya yg di depan tp saya yg di samping kiri mba yaya malah yg terjatuh.


Regulo - Maret 2008 - Jumat agung
Berangkat ber 22, untuk memenuhi kuota sehingga dr harga 165 jadi 135. Tapi karena cuaca tak mendukung dan kurangnya manajemen waktu yang ketat, ketika kami sampai di base camp regulo pukul 2, hujan lebat menyambut. Sebelum hujan debit air sudah 70, ketika hujan, kayak melihat banjir bandang di sana.Karena bbrp teman harus kerja sabtunya, tersisa lah 9 dari kami.

Kami memang cuma medan bawah, tapi debit air yg 70 itu sudah cukup membuat segala sesuatu seru, baik jeram2nya, maupun lebar sungai.Hanya saja.....karena ada romgongan dr noars yang dialihkan dari medan atas ke bawah, jadi........teknisnya setelah jalan 1 per satu , sebelum jeram yang dianggap berbahaya, kami parkir dengan manis satu persatu, menunggu rescuer boat dr regulo n noars lewat n memasang safety tools, spt tali lah , ato ada yg jaga di titik tertentu.


Welll,,,bosan n capek menunggu nya:(Ada 2 jeram yang kami semua harus lewat jalan darat, cuma kapal kosong yag boleh lewat, krn akan terbalik (dengar dr cerita teman yg sblmnya rafting di sana, rescuer boat nya aja terbalik, boat tmnny jg terbalik ampe ada yg berdarah2).Di rest area, disediakan kelapa muda dan jemblem mungil. Jembatan disediakan utk yang terjun bebas, uji nyali. Wala medannya memang tidak sepanjang songa atas, layak dicoba.

Ditulis oleh : Yenny (Pyor) Wen

Friday, March 30, 2007

Singosari & Kebun Raya Purwodadi


Penat dengan rutinitas dan kehidupan kota, akhirnya kami memutuskan mencari udara segar, menggerakkan kaki sejenak dan menikmati hijaunya alam.
Perjalanan kali ini kami mulai pagi pagi sekali demi menghindari aksi demo yang akan dilakukan di daerah Raya Porong yang masih saja belum ada pemecahannya. Sampai di Pandaan kami menyempatkan diri mengisi perut di Depot AFF yg mempunyai menu andalan Rawon Empal (mohon maap sementara belum ada dokumentasinya) hehehe. Dengan harga Rp 8.000,- empal yang empuk dan sambal yang lezat menjadi sarapan kami.
Lalu kami langsung menuju Kawasan Peninggalan Purbakala Singosari. Ternyata tidak seperti yang kami bayangkan, kawasan ini sudah cukup berpenghuni, jadi peninggalan2 kerajaan Singosari tersebut sudah dikelilingi rumah2 penduduk dan di batasi pagar. Ketika kita memasuki kawasan ini, ada 2 raksasa yang mengapit jalan. Raksasa yang bertampang seram ini dinamakan Dwarapala yang dibuat dari batu monolitik dengan ketinggian 3,70 m.
Keberadaan dua arca dwarapala itu menunjukkan bahwa lokasi itu pada masa lalu merupakan pintu gerbang dari kerajaan Singosari, sebab fungsi arca dwarapala di masa lalu memang sebagai simbol dari penjaga pintu atau pintu gerbang namun hinga saat ini belum dilakukan rekonstruksi untuk mengetahui dimanakah letak istana Singosari secara tepat apakah disebelah barat atau timur Dwarapala karena situs bangunan istana Singosari sampai sekarang belum diketahui letaknya.

Letak kedua arca tersebut berada disisi kiri dan kanan jalan utama desa Candirenggo yang membujur dari timur ke barat.Arca raksasa yang sebelah kiri (selatan) berada diatas pedestal buatan yang dibuat sekitar tahun 1982 sewaktu arca tersebut diangkat dari kondisinya yang tenggelam sebatas perut menghadap utara. Terdapat cerita unik seputar proses pengangkatan arca yang tersebut, dua buah traktor yang diperkirakan mampu mengangkatnya ternyata "kewalahan" ditandai dengan melengkungnya tuas besi pengangkatnya. Akhirnya dari "wangsit" yang diterima oleh salah seorang pekerja, bahwa arca tersebut baru bisa diangkat bila kedua matanya ditutup dengan kain hitam dan menggunakan tiga batang pohon kelapa sebagai tiang penyangganya. Setelah dilakukan upacara ritual dan sesuai dengan petunjuk wangsit tersebut, barulah arca tersebut bisa diangkat dan dipindahkan. (sumber: navigasi.net)


Atas petunjuk dari penjaga situs Dwarapala, kami melanjutkan perjalanan ke situs candi Sumberawan. Stupa ini sering disebut “Candi Rawan” yang berasal dari Sumber + Irawan, karena putra Arjuna konon pernah mandi sore di tempat ini. Candi ini tidak bisa di jangkau dengan kendaraan, jadi kami harus memarkir kendaraan di sebuah warung milik warga dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 400 M. Pemandangan yang kami lalui sungguh menyegarkan mata. Selain hamparan padi yang luas dan hijau, beningnya mata air di sepanjang perjalanan kami benar2 menyejukkan. Banyak kegiatan masyarakat di sepanjang mata air itu termasuk mandi dan mencuci baju, namun airnya tetap jernih dan dingin.


Note : Kita diharapkan mengisi buku tamu di setiap situs di kawasan ini, dan memberikan sumbangan sukarela demi pemeliharaannya.

Puas bermain air, kami melanjutkan perjalanan menuju Kebun Raya Purwodadi. Setelah membayar tiket masuk sebesar Rp 3.500,- / orang dan retribusi mobil, kami segera di persilakan menikmati hijaunya kebun ini dengan menggunakan mobil. Mobil bisa kami bawa sampai ke suatu tempat tertentu yang ingin kita gunakan sebagai tempat rekreasi. Suasana berawan dan angin semilir menemani kami disana. Pepohonan yang tinggi menjulang dan entah berusia brapa tahun menaungi jalanan beraspal yang kami lewati.


Jika kita tidak membawa minum ato snack sebagai camilan waktu piknik, jangan khawatir, begitu kita berhenti di suatu tempat, segeralah muncul (entah dari mana) ibu2 penjaja snack dan minuman (dingin).
Note : Seperti wisata alam pada umumnya, nyamuk hutan juga banyak berkeliaran menikmati redupnya suasana pepohonan. Bawalah obat oles anti nyamuk

Sepulang dari Purwodadi, kami menyempatkan mengisi perut di warung penjual Lontong Kupang di Tretes (tepatnya diseberang Ayam Goreng Sri). Kenikmatan lontong kupang ini terletak pada baunya yang harum dan juga kupang yang segar. Apalagi kalau dimakan bersama bumbunya yang pedas. Bumbunya langsung diracik sesuai pesanan, terdiri dari bawang putih,gula pasir,gula merah, dan cabe merah. hummm.... di hari biasa kita masih bisa mendapatkannya di sore hari. Tapi kalau weekend, jangan berharap banyak deh. Warung ini buka sktr jam 11-12 setiap harinya. Dengan harga Rp 4.000,- per porsi kita bisa menikmati kupang yang dipadukan dengan lento dan lontong ini. (Mohon maaf tidak ada dokumentasi nya lagi, abis kalo dah kelaparan jadi lupa....hahahaha) Daripada penasaran,lebih baik dibuktikan sendiri deh.

Monday, January 22, 2007

Bonbin Surabaya

Kemarin Minggu nganggur-nganggur, trus nyoba kelilingan cari hiburan sekaligus nganter sensei yg mo hijrah ke Jakarta. Acaranya hunting foto-foto tempat yg khas di Surabaya buat kenang-kenangan, eehh... sekalian aja mampir ke Kebun Binatang Surabaya yang konon koleksi ragam faunanya paling lengkap seantero Indonesia Raya. Ini dia ulasannya...

Kebun Binatang Surabaya terletak di Jalan Wonokromo, tempat ini sekaligus menjadi paru-paru kota karena tempatnya yang masih rindang. Di hari libur pelataran di depan lokasi dijadikan area tempat parkir sepeda motor dengan harga Rp. 3000,- jauh lebih mahal dibanding parkir resmi pihak Bonbin yg hanya Rp.500,- (roda dua) dan Rp. 1000,- (roda empat).

Kebun Binatang Surabaya & patung Monumen Sura dan Buaya (didepan lokasi)

Untuk tiket masuk dipatok harga Rp. 8000,-, tidak mahal juga karena di dalam ada beraneka ragam jenis fauna. Kemaren sempet nyatet beberapa diantaranya Merak, Kakaktua (dilepas outdoor), Elang, Pelikan, Tapir, Cheetah, Kera, Onta, Zebra, Beruang, Jerapah, Lama, Bison, Kuda Nil, Rusa tutul, Harimau, Bekantan, Kambing gunung, Orang utan, Kuda, Keledai, Owa, Anoa, Celeng, Kanguru. Di dalam Kebun Binatang ada tempat lagi dimana kita harus membayar tiket seharga Rp. 3000,- yakni tiket untuk masuk ke area Aquarium, disana disuguhkan aneka ragam Fauna air tawar dan air laut, namun tempat ini agak mengecewakan karena papan nama yang dipajang tidak sesuai dengan hewan yang pamerkan. Di area ini ada juga beragam Kura-kura, Iguana, Ular dan Penyu

gambar ragam koleksi Aves di Kebun Binatang Surabaya

Pada waktu-waktu tertentu, di KBS ini diadakan acara-acara hiburan, diantaranya :
Tunggang Gajah setiap hari Pk. 10.00-13.00 kecuali Jumat, Kereta Onta Hari Sabtu & Minggu Pk. 10.00-13.00, Tunggang Kuda Hari Sabtu & Minggu Pk 10.00-13.00, Aneka pertunjukan satwa hari Sabtu dan Minggu Pk. 10.00 - 13.00. Bisa juga kita melihat "waktu makan" binatang tertentu yang menarik yakni Buaya setiap Kamis jam 12.00 dan Komodo setiap tanggal 5 dan 20.

gambar susur sungai di area KBS & acara naik gajah

selamat berekreasi...

Wednesday, July 20, 2005

Ranu Kumbolo

Ranu Kumbolo terletak di Jawa Timur, sebuah danau di pegunungan tengger-Semeru dengan ketinggian 2500 meter diatas permukaan air laut. Tanggal 17 Juli 2005 kami (Mariza, Justine, Vannie, Jacky, Ucup, Anton, Valens) berangkat dari Surabaya (terminal Bungurasih) menuju ke Malang (terminal Arjosari), dari terminal Arjosari perjalanan berlanjut ke Tumpang untuk menyewa kendaraan Ranger yang akan mengantar kami ke Ranu Pane, pos terakhir yang dapat dilalui kendaraan roda empat. Untung saat itu kami bertemu dengan rombongan "Rivaldo" 4 Pemuda dan 1 orang tua dengan peralatan navigasinya yang canggih. Buset, untuk tracking aja mereka membawa GPS (Global Positioning System) untuk track recording tiap 50 meter plus alat untuk sensor suhu, tekanan udara, derajat kemiringan dll. Gila, sedangkan kita cuma mengandalkan pengalaman dan insting aja :).
Pemandangan dari desa Klakah-Ranupane sangat indah, sayang saat Pergi/Pulang keadaan cuaca tidak mendukung alias berkabut sehingga pemandangan terlihat samar-samar dan pula laju kendaraan yang ngebut plus jalan yang tidak rata membuat kami semua tidak dapat membidik panorama yang luar biasa, deretan pegunungan yang menyembul saling mendahului dan hamparan padang pasir yang sangat luas dengan Gunung Bromo ditengahnya seakan membius mata sambil berdecak kagum. Sampai di Ranu Pane kami semua lapor ke Pos Penjagaan setempat untuk mendata diri.


Puncak Semeru dibidik dari Pondok di Ranu Pane

Dari pondok kami berjalan melewati jalan beraspal dan kemudian mulai tracking di nol kilometer, pemandangan dari sini hanya hamparan sawah yang luas berwarna-warni dengan beberapa gubug di tengahnya.


hamparan sawah saat tanjakan pertama dari Pondok

Setelah berjalan selama kurang lebih empat jam melalui lereng-lereng gunung dengan jalan yang lebarnya tak lebih dari 50cm (sebelah kanan dinding gunung dan sebelah kiri jurang yang dalemnya engga bisa dibawayangkan) untung akhirnya kami dihibur oleh pemandangan yang kami nantikan, Danau Kumbolo !!! wahhh akhirnya sampai juga.


Ranu Kumbolo dilihat dari atas

Tiba di danau kira-kira pukul 2 sore, cuaca sudah berkabut dan sangat dingin, tak lama kemudian matahari mulai tenggelam di ufuk barat meninggalkan hangatnya terang berganti dengan kabut dan suhu yang sangat tidak bersahabat. Peralatan pancing pun digulung dan kami semua masak untuk makan malam, menanak nasi, mie rebus plus campuran sosis, pentol, corned beef, telor. Entah apa namanya makanan itu, kami menyebutnya "Bistik Kumbolo" hahaha... itemani dengan hangatnya kopi susu plus nutri gel dan semangka sebagai penutup.


matahari terbenam di Ranu Kumbolo

Malam hari berlangsung sangat singkat, pukul tujuh malam kami semua sudah masuk tenda karena cuaca sangat dingin diluar dengan hembusan tiupan angin yang menambah suasana menjadi beku. Lilin pun dinyalakan dan kami bermain domino di dalam tenda. 30 menit kemudian semua kembali ke tenda masing2, kaki yang capek setelah berjalan 10Km dan punggung yang serasa pegal meminggul bekal seberat kurang lebih 10kg memohon untuk beristirahat sejenak.

Pukul 1/2 5 Vannie & Justine membangunkanku untuk take some picture, badanku menggigil, kaku dan terasa bengkak dan beku, tak bisa merasakan lagi duri-duri semak yang kuinjak, aku naik agak keatas bukit dan berjongkok sendiri menunggu mentari.


matahari terbit di Ranu Kumbolo

Entah berapa suhu pagi itu, telapak kakiku sudah sulit untuk digerakkan, aku terpaksa kembali ke kemah, menghangatkan kaki diatas kompor dan memakai kaus kaki dan sepatu untuk menghangatkan kakiku. Aku berhenti sejnak terheran melihat danau yang mengpulkan asap. Pemandangan yang tak pernah kulihat, air danau mengepulkan asap dinginnya seakan-akan memperingatkan kami untuk tidak berani mencoba mandi didalamnya :P


Danau yang berasap dingin dilihat dari pondok

Aku tak akan melewatkan kesempatan ini, aku berjalan memutar kembali menuruni bukit kearah danau dengan kaki pincang kedinginan aku berjalan cepat agar tak kehilangan moment yang hanya lewat sekejap, entah ada berapa goresan di kakiku karena semak belukar, tak kurasakan terhalang bekunya daging ini.


kabut yang merambat di tepian danau

Sekitar pukul 6 pagi, matahari sudah diatas, aku menoleh kebelakang dan kulihat sinar surya menerangi sebagian tumbuhan di bukit. Tampak sekilas 'track tanjakan cinta'. Dinamakan tanjakan cinta karena konon kepercayaan disana, bagi siapa saja yang dapat naik tanpa berhenti permohonan cintanya akan terkabul.


'tanjakan cinta'

Pukul Tujuh pagi surya telah merubah asap-asap di danau menjadi butiran kilauan mutiara yang indah, kilauan dari pancaran matahari yang berusaha menembus air dan memantul.



Sekitar pukul 10 pagi kami semua beres-beres dan kembali ke Ranu Pane dan kembali ke kota Surabaya tercinta yang hangat dan berdebu.

posted by Valens