Wednesday, July 20, 2005

Ranu Kumbolo

Ranu Kumbolo terletak di Jawa Timur, sebuah danau di pegunungan tengger-Semeru dengan ketinggian 2500 meter diatas permukaan air laut. Tanggal 17 Juli 2005 kami (Mariza, Justine, Vannie, Jacky, Ucup, Anton, Valens) berangkat dari Surabaya (terminal Bungurasih) menuju ke Malang (terminal Arjosari), dari terminal Arjosari perjalanan berlanjut ke Tumpang untuk menyewa kendaraan Ranger yang akan mengantar kami ke Ranu Pane, pos terakhir yang dapat dilalui kendaraan roda empat. Untung saat itu kami bertemu dengan rombongan "Rivaldo" 4 Pemuda dan 1 orang tua dengan peralatan navigasinya yang canggih. Buset, untuk tracking aja mereka membawa GPS (Global Positioning System) untuk track recording tiap 50 meter plus alat untuk sensor suhu, tekanan udara, derajat kemiringan dll. Gila, sedangkan kita cuma mengandalkan pengalaman dan insting aja :).
Pemandangan dari desa Klakah-Ranupane sangat indah, sayang saat Pergi/Pulang keadaan cuaca tidak mendukung alias berkabut sehingga pemandangan terlihat samar-samar dan pula laju kendaraan yang ngebut plus jalan yang tidak rata membuat kami semua tidak dapat membidik panorama yang luar biasa, deretan pegunungan yang menyembul saling mendahului dan hamparan padang pasir yang sangat luas dengan Gunung Bromo ditengahnya seakan membius mata sambil berdecak kagum. Sampai di Ranu Pane kami semua lapor ke Pos Penjagaan setempat untuk mendata diri.


Puncak Semeru dibidik dari Pondok di Ranu Pane

Dari pondok kami berjalan melewati jalan beraspal dan kemudian mulai tracking di nol kilometer, pemandangan dari sini hanya hamparan sawah yang luas berwarna-warni dengan beberapa gubug di tengahnya.


hamparan sawah saat tanjakan pertama dari Pondok

Setelah berjalan selama kurang lebih empat jam melalui lereng-lereng gunung dengan jalan yang lebarnya tak lebih dari 50cm (sebelah kanan dinding gunung dan sebelah kiri jurang yang dalemnya engga bisa dibawayangkan) untung akhirnya kami dihibur oleh pemandangan yang kami nantikan, Danau Kumbolo !!! wahhh akhirnya sampai juga.


Ranu Kumbolo dilihat dari atas

Tiba di danau kira-kira pukul 2 sore, cuaca sudah berkabut dan sangat dingin, tak lama kemudian matahari mulai tenggelam di ufuk barat meninggalkan hangatnya terang berganti dengan kabut dan suhu yang sangat tidak bersahabat. Peralatan pancing pun digulung dan kami semua masak untuk makan malam, menanak nasi, mie rebus plus campuran sosis, pentol, corned beef, telor. Entah apa namanya makanan itu, kami menyebutnya "Bistik Kumbolo" hahaha... itemani dengan hangatnya kopi susu plus nutri gel dan semangka sebagai penutup.


matahari terbenam di Ranu Kumbolo

Malam hari berlangsung sangat singkat, pukul tujuh malam kami semua sudah masuk tenda karena cuaca sangat dingin diluar dengan hembusan tiupan angin yang menambah suasana menjadi beku. Lilin pun dinyalakan dan kami bermain domino di dalam tenda. 30 menit kemudian semua kembali ke tenda masing2, kaki yang capek setelah berjalan 10Km dan punggung yang serasa pegal meminggul bekal seberat kurang lebih 10kg memohon untuk beristirahat sejenak.

Pukul 1/2 5 Vannie & Justine membangunkanku untuk take some picture, badanku menggigil, kaku dan terasa bengkak dan beku, tak bisa merasakan lagi duri-duri semak yang kuinjak, aku naik agak keatas bukit dan berjongkok sendiri menunggu mentari.


matahari terbit di Ranu Kumbolo

Entah berapa suhu pagi itu, telapak kakiku sudah sulit untuk digerakkan, aku terpaksa kembali ke kemah, menghangatkan kaki diatas kompor dan memakai kaus kaki dan sepatu untuk menghangatkan kakiku. Aku berhenti sejnak terheran melihat danau yang mengpulkan asap. Pemandangan yang tak pernah kulihat, air danau mengepulkan asap dinginnya seakan-akan memperingatkan kami untuk tidak berani mencoba mandi didalamnya :P


Danau yang berasap dingin dilihat dari pondok

Aku tak akan melewatkan kesempatan ini, aku berjalan memutar kembali menuruni bukit kearah danau dengan kaki pincang kedinginan aku berjalan cepat agar tak kehilangan moment yang hanya lewat sekejap, entah ada berapa goresan di kakiku karena semak belukar, tak kurasakan terhalang bekunya daging ini.


kabut yang merambat di tepian danau

Sekitar pukul 6 pagi, matahari sudah diatas, aku menoleh kebelakang dan kulihat sinar surya menerangi sebagian tumbuhan di bukit. Tampak sekilas 'track tanjakan cinta'. Dinamakan tanjakan cinta karena konon kepercayaan disana, bagi siapa saja yang dapat naik tanpa berhenti permohonan cintanya akan terkabul.


'tanjakan cinta'

Pukul Tujuh pagi surya telah merubah asap-asap di danau menjadi butiran kilauan mutiara yang indah, kilauan dari pancaran matahari yang berusaha menembus air dan memantul.



Sekitar pukul 10 pagi kami semua beres-beres dan kembali ke Ranu Pane dan kembali ke kota Surabaya tercinta yang hangat dan berdebu.

posted by Valens